Jakarta, InfoPublik - Ketua DPR RI Puan Maharani menegaskan persatuan dan kesatuan merupakan fondasi paling mendasar dalam membangun Indonesia di tengah keberagaman suku, agama, budaya, bahasa, dan pandangan politik.
Hal tersebut disampaikan Puan dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-1 Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026-2027 di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Menurut Puan, kemampuan seluruh elemen bangsa untuk tetap berjalan bersama dan bergandengan tangan merupakan kekuatan terbesar Indonesia.
“Persatuan bukanlah keadaan yang lahir karena kita sama, melainkan pilihan untuk tetap bersama walaupun kita berbeda,” ujar Puan.
Ia menegaskan persatuan dan kesatuan bukan sekadar cita-cita, melainkan prasyarat bagi keberhasilan pembangunan nasional. Tanpa persatuan, pembangunan akan menghadapi tantangan yang semakin berat karena perbedaan dapat berubah menjadi perpecahan, kepercayaan sosial melemah, dan energi bangsa terkuras untuk menyelesaikan konflik.
Sebaliknya, ketika masyarakat saling percaya, saling menghormati, menjunjung tinggi gotong royong, serta mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan golongan, pembangunan dapat berjalan lebih efektif dan menghadirkan manfaat yang lebih besar serta adil bagi seluruh rakyat.
“Keberagaman bukan ancaman bagi persatuan, tapi kenyataan yang harus dipersatukan oleh cita-cita yang sama, tujuan yang sama, rasa yang sama sebagai rakyat Indonesia,” katanya.
Puan mengibaratkan Indonesia sebagai satu rumah kebangsaan yang dibangun oleh sejarah, dipersatukan oleh Pancasila, dan diwariskan kepada setiap generasi untuk dijaga bersama.
Di dalam rumah kebangsaan tersebut, setiap warga negara, menurut Puan, harus merasa dihormati martabatnya, dilindungi hak-haknya, serta memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkontribusi bagi bangsa dan negara.
“Persatuan dan kesatuan bukan berarti menyeragamkan perbedaan, persatuan justru memberi makna pada perbedaan,” ujar Puan.
Ia mengatakan masyarakat Indonesia boleh berbeda suku, agama, budaya, bahasa, maupun pilihan politik, tetapi seluruhnya berada dalam satu rumah kebangsaan dan memiliki tujuan yang sama.
Puan mengingatkan persatuan dan kesatuan tidak akan tetap kokoh hanya karena diwariskan dari generasi sebelumnya. Persatuan harus terus dipelihara, diperkuat, dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, tanggung jawab menjaga persatuan berada di pundak seluruh anak bangsa, terlebih para penyelenggara negara.
“Setiap kebijakan, setiap keputusan dan setiap tindakan harus memperkuat keyakinan rakyat bahwa Indonesia adalah rumah bersama,” katanya.
Rumah bersama tersebut, lanjut Puan, harus menjadi tempat bagi seluruh rakyat untuk hidup tenteram dan sejahtera.
“Selama keyakinan itu tetap terjaga, maka persatuan dan kesatuan Indonesia akan tetap kokoh sebagai fondasi bagi Indonesia yang maju, berdaulat, dan bermartabat,” ujar Puan.
Menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Puan mengajak seluruh elemen bangsa mengingat kembali perjalanan panjang Indonesia sejak memasuki gerbang kemerdekaan.
“81 tahun yang lalu, bangsa Indonesia membuka pintu gerbang kemerdekaan dan memasuki pintu gerbang itu. Sejak saat itu, perjalanan panjang terus kita tempuh untuk mewujudkan cita-cita Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur,” katanya.
Puan menegaskan tanggung jawab untuk melanjutkan cita-cita tersebut kini berada di tangan seluruh elemen bangsa.
Menurutnya, DPR RI, pemerintah, seluruh lembaga negara, dan rakyat Indonesia memiliki amanah yang sama untuk memastikan setiap langkah, kebijakan, dan ikhtiar benar-benar mendekatkan Indonesia kepada cita-cita bersama.
“Untuk bangsa dan negara, untuk Indonesia,” pungkas Puan.