Presiden Prabowo Genjot Pemerataan Pendidikan hingga Pulau Terluar
Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI di Kompleks Parlemen RI Jakarta, Jumat (14/8/2026). (Foto: Amiri Yandi/InfoPublik)
Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI di Kompleks Parlemen RI Jakarta, Jumat (14/8/2026). (Foto: Amiri Yandi/InfoPublik)
Jakarta, InfoPublik — Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan pembangunan manusia harus ditopang pendidikan yang berkualitas dan akses pembelajaran yang merata. Karena itu, pemerintah memperluas program perbaikan sekolah sekaligus mempercepat pemanfaatan teknologi pembelajaran hingga wilayah terluar Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Presiden Prabowo dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Presiden menyebut pemerintah menjalankan program perbaikan sekolah dalam skala terbesar sepanjang sejarah. Setelah memperbaiki 16.167 sekolah pada tahun sebelumnya, pemerintah menargetkan perbaikan 71.744 sekolah pada 2026.
Program tersebut tidak hanya menyasar wilayah perkotaan, tetapi juga sekolah di kawasan terluar Indonesia. Presiden mencontohkan perbaikan sekolah di Miangas, pulau paling utara Indonesia, Sabang di wilayah paling barat, hingga Merauke dan berbagai daerah lainnya. “Anak-anak kita harus memperoleh pendidikan yang baik. Karena itu kita jalankan program perbaikan sekolah terbesar dalam sejarah kita,” ujar Presiden.
Menurut Presiden, pemerataan infrastruktur pendidikan penting untuk memastikan lokasi geografis tidak menjadi hambatan bagi anak-anak dalam memperoleh layanan pendidikan yang layak.
Selain memperbaiki sarana fisik sekolah, pemerintah memperluas penggunaan teknologi dalam proses belajar mengajar melalui penyediaan interactive flat panel (IFP) atau layar pintar interaktif.
Presiden mengatakan pada tahun sebelumnya setiap sekolah telah memperoleh satu layar pintar interaktif. Tahun ini, pemerintah akan menambahkan tiga layar pada setiap sekolah. Dengan demikian, setiap sekolah nantinya ditargetkan memiliki empat ruang kelas yang dilengkapi layar pintar interaktif.
Teknologi tersebut akan digunakan untuk memperluas akses siswa terhadap materi pembelajaran dan pengajar berkualitas, khususnya dalam bidang sains, matematika, teknologi, serta bahasa asing. “Dengan layar-layar ini kita hadirkan guru-guru terbaik untuk mengajar sains, matematika, teknologi dan juga para native speakers, untuk belajar bahasa asing,” kata Presiden.
Presiden menekankan penguasaan bahasa asing sejak usia dini menjadi bagian penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia menghadapi dunia kerja yang semakin terbuka.
Kemampuan tersebut diharapkan tidak hanya memberikan kesempatan bagi anak-anak Indonesia untuk bekerja di dalam negeri dalam lingkungan kerja yang semakin global, tetapi juga membuka peluang berkarier di luar negeri.
Menurut Presiden, kemampuan bekerja di mancanegara dapat memberikan manfaat ganda. Selain meningkatkan kesejahteraan pekerja, penghasilan yang diperoleh di luar negeri juga dapat mengalir kembali ke Indonesia dalam bentuk devisa dan membantu perekonomian keluarga di tanah air.
Kebijakan tersebut melengkapi agenda pembangunan manusia yang sebelumnya ditekankan Presiden melalui pemenuhan gizi dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dengan pendekatan tersebut, pemerintah berupaya membangun ekosistem pendidikan dari hulu hingga hilir: anak memperoleh asupan gizi yang memadai, belajar di sekolah yang layak, mendapatkan akses terhadap teknologi dan pengajar berkualitas, serta dibekali kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Pembangunan sekolah di Miangas, Sabang, Merauke, dan berbagai daerah lainnya sekaligus menegaskan pesan bahwa pemerataan pendidikan tidak boleh berhenti pada pusat-pusat pertumbuhan, tetapi harus menjangkau seluruh wilayah Indonesia.