Kisah Nawi, dari Bambu Runcing hingga Pesan untuk Generasi Muda
Padang, InfoPublik – Di usia 103 tahun, Nawi masih menyimpan ingatan yang panjang tentang perjalanan bangsa Indonesia. Lahir di Padang pada 12 Mei 1923, veteran pejuang kemerdekaan itu menjadi saksi langsung masa penjajahan, perjuangan bersenjata, hingga Indonesia berdiri sebagai negara merdeka.
Menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, kisah Nawi kembali menjadi pengingat bahwa kemerdekaan tidak lahir begitu saja. Di balik upacara dan kemeriahan 17 Agustus, ada generasi yang pernah mempertaruhkan masa muda, tenaga, bahkan nyawa untuk mempertahankan tanah air.
Pada usia belasan tahun, sekitar 1940, Nawi mulai terlibat dalam perjuangan di sejumlah wilayah Sumatra Barat, antara lain Banda Bakali, Lubuk Alung, Rimbo Kaluang, Andaleh, hingga Seberang Padang.
Ia dipercaya memimpin sekitar 300 pemuda sebagai Komandan Regu Pasukan Hizbullah wilayah Kapalo Koto. Perjuangan mereka berlangsung dengan keterbatasan persenjataan, tetapi ditopang tekad untuk mengusir penjajah dari Indonesia.
“Senjata kami waktu itu talang baranjuang (bambu runcing). Kami berjuang lima tahun sebelum merdeka. Belanda harus angkat kaki dari Indonesia, itu tekad bulat di hati kami,” kenang Nawi.
Senjata yang lebih modern, seperti senapan Bren maupun granat, diperoleh melalui pertempuran dan perebutan dari tangan lawan. Bagi Nawi dan para pemuda ketika itu, keterbatasan peralatan bukan alasan untuk berhenti berjuang.
Perjuangan Nawi berlanjut ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942. Masa itu menjadi salah satu periode paling berat dalam ingatannya, terutama karena kesulitan memenuhi kebutuhan pangan dan beratnya kerja paksa. “Zaman Jepang paling susah makan. Kerja diperas banyak-banyak, makan cuma sedikit,” tuturnya.
Setelah Jepang meninggalkan Indonesia dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan berlanjut hingga Belanda akhirnya hengkang sekitar 1950, Nawi masih menghadapi pergolakan bersenjata di dalam negeri.
Pada 1957, ketika konflik daerah berkecamuk, sebutir peluru menembus pahanya. Peluru tersebut bahkan masih bersarang di tubuhnya hingga kini. “Waktu itu saya tertembak di paha. Dokter sudah menyarankan untuk operasi dikeluarkan, tapi saya tidak mau. Lagipula tidak terasa sakit lagi,” ujarnya sembari tersenyum.
Pengalaman panjang itu membuat Nawi tidak hanya menyimpan cerita tentang peperangan, tetapi juga tentang kehilangan. Ia telah ditinggalkan dua istri dan lima dari delapan anaknya.
Namun, berbagai pengalaman hidup tersebut tidak membuatnya kehilangan semangat untuk berbuat baik. Penerima tiga penghargaan Satyalancana itu justru menyebut prinsip hidup sederhana sebagai salah satu pegangan yang membuatnya mampu menjalani usia lebih dari satu abad. “Saya tidak ingin menyakiti orang lain, saya selalu ingin membantu kawan. Jiwa itu yang selalu saya tanamkan,” katanya.
Nilai tersebut sejalan dengan filosofi Minangkabau yang terus ia pegang: “Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang. Saciok bak ayam, sadanciang bak basi.”
Bagi Nawi, perjuangan memang telah berubah bentuk. Bambu runcing telah menjadi bagian dari sejarah, sementara dentuman senjata telah lama berhenti. Tantangan generasi sekarang bukan lagi mengangkat senjata, melainkan menjaga persatuan, membantu sesama, dan memastikan kemerdekaan memberi manfaat bagi seluruh rakyat.
Di usianya yang telah melewati satu abad, pesan Nawi sederhana: semangat perjuangan tidak boleh berhenti bersama berakhirnya perang.
Kemerdekaan yang diwariskan para pejuang harus dirawat melalui kerja bersama dan kepedulian terhadap sesama. Sebab, perjuangan hari ini bukan lagi tentang bagaimana memenangkan pertempuran, melainkan bagaimana memastikan Indonesia terus berdiri kuat bagi generasi yang akan datang.
(Charlie / Muliadi)
~ uploader by Ju