Depok, InfoPublik — Rasa bangga sekaligus haru dirasakan Ismi Ulfaida setelah berhasil melewati rangkaian seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) hingga tingkat nasional.
Siswi Sekolah Rakyat Terintegrasi 22 Polewali Mandar, Sulawesi Barat, itu menjadi bagian dari calon Paskibraka yang tengah menjalani latihan untuk upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI 2026 di Depok, Jawa Barat.
Ismi mengaku sejak awal tidak pernah menargetkan diri untuk sampai ke tingkat nasional. Ia hanya berharap dapat lolos seleksi di tingkat provinsi. Namun, kesempatan tersebut terbuka setelah dirinya berhasil melewati setiap tahapan seleksi dari tingkat kabupaten hingga provinsi. "Sebetulnya saya juga tidak menyangka bisa sampai di tingkat nasional karena saya cuma targetnya provinsi," ujar Ismi saat ditemui InfoPublik dalam kegiatan latihan Paskibraka HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kantor Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Depok, Jawa Barat, Sabtu (8/8/2026).
Perjalanan Ismi dimulai dari seleksi di sekolah. Dari proses tersebut, dirinya bersama satu peserta laki-laki terpilih untuk melanjutkan ke tingkat kabupaten.
Ismi kemudian berhasil melewati seleksi tingkat kabupaten dan melanjutkan ke tingkat provinsi. Setelah dinyatakan lolos di tingkat provinsi, proses berlanjut dengan verifikasi di tingkat pusat. "Terus lulus tingkat provinsi, dilanjut dengan verifikasi tingkat pusat, dan alhamdulillah saya lulus sampai di tingkat pusat, terus saya mengikuti latihan," katanya.
Siswi Sekolah Rakyat Pertama
Keberhasilan Ismi memiliki arti tersendiri. Ia merupakan salah satu siswi Sekolah Rakyat yang untuk pertama kalinya mengikuti proses hingga menjadi calon Paskibraka tingkat nasional.
Ismi mengaku bersyukur sekaligus bangga dapat membawa nama Sekolah Rakyat dalam program nasional tersebut. "Tentunya saya sangat bersyukur dan bangga karena bisa terpilih menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka di tingkat nasional, apalagi dari Sekolah Rakyat yang pertama," ujarnya.
Sekolah Rakyat sendiri menjadi lingkungan pendidikan yang relatif baru bagi Ismi. Ia sebelumnya mengikuti proses penerimaan berdasarkan kriteria yang ditetapkan dalam program tersebut.
Menurut Ismi, status sebagai siswi Sekolah Rakyat tidak menjadi kendala ketika harus berbaur dengan peserta dari berbagai daerah selama mengikuti pemusatan latihan. "Saya tidak ada kesulitan. Cuma tidak terlalu banyak yang bertanya tentang Sekolah Rakyat," tuturnya.
Persiapan PBB hingga Bimbingan Belajar
Untuk menghadapi proses seleksi, Ismi melakukan sejumlah persiapan. Salah satunya mengikuti bimbingan belajar dan memperkuat kemampuan Peraturan Baris-Berbaris (PBB).
Ia menyebut latihan tersebut menjadi bekal penting sebelum mengikuti rangkaian seleksi Paskibraka. "Latihan PBB sama bimbingan belajar," kata Ismi ketika ditanya mengenai persiapannya.
Namun, perjalanan selama pelatihan nasional juga tidak selalu mudah. Ismi mengakui harus beradaptasi dengan pola kehidupan yang jauh lebih disiplin dibandingkan rutinitasnya sehari-hari di rumah.
Salah satu tantangan yang dirasakannya adalah menjaga konsentrasi dan fokus selama menjalani rangkaian kegiatan. "Biasanya kurang konsentrasi, kadang tidak fokus karena kepikiran rumah," ujarnya.
Rutinitas di tempat pelatihan pun berlangsung sangat padat. Ismi mengatakan peserta sudah harus bangun sekitar pukul 04.00 WIB untuk memulai aktivitas.
Setelah bangun, peserta mandi dan melaksanakan Salat Subuh. Kegiatan dilanjutkan dengan olahraga pagi sebelum memasuki latihan utama yang berlangsung sejak sekitar pukul 07.00 hingga 17.00 WIB.
Setelah latihan selesai, peserta kembali mandi, melaksanakan Salat Magrib, makan malam, dan Salat Isya. Pada malam hari, kegiatan dilanjutkan dengan materi apabila terdapat agenda pembelajaran. Jika tidak ada materi, peserta diberikan waktu untuk beristirahat.
Rindu Keluarga
Setelah sekitar tiga minggu menjalani pelatihan, Ismi mengaku tantangan terbesar bukan hanya soal fisik. Jauh dari keluarga menjadi pengalaman emosional yang harus dihadapinya.
Ia mengaku merindukan orang tua dan keluarga, terlebih rutinitas di tempat pelatihan membuatnya tidak dapat menjalani kehidupan seperti biasanya di rumah.
Ketika rasa rindu datang, Ismi memilih menangis sebagai cara untuk meluapkan perasaannya. "Cuma nangis di kamar," ujarnya singkat.
Meski demikian, ia memiliki alasan kuat untuk terus bertahan.
Ketika ditanya apa yang membuatnya tetap kuat menjalani seluruh proses pelatihan, Ismi menjawab sederhana, "Ingat saja orang tua."
Dukungan orang tua memang menjadi bagian penting dalam perjalanan Ismi. Sebelum berangkat mengikuti proses pelatihan, ia terlebih dahulu meminta doa dan restu kepada kedua orang tuanya.
"Meminta doa, meminta restu," katanya mengenang pesan yang disampaikannya kepada orang tua sebelum berangkat.
Ayah dan ibunya juga menjadi sumber motivasi bagi Ismi. Orang tua Ismi diketahui bekerja sebagai petani.
Bagi Ismi, perjalanan dari Polewali Mandar menuju pelatihan tingkat nasional bukan sekadar pencapaian pribadi. Ia membawa nama daerah, sekolah, sekaligus menjadi bagian dari sejarah awal keterlibatan Sekolah Rakyat dalam program Paskibraka.