Jakarta, InfoPublik - Kamis (22/3) pukul 07.08.01 WIB, wilayah Samudera Hindia Pantai Barat Sumatera diguncang gempabumi tektonik.

Hasil analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa gempabumi berkekuatan Mw=5,0 (update) terjadi dengan koordinat episenter pada 4,74 LS dan 102,77 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 54 km arah Barat Daya Kabupaten Bengkulu Selatan, Propinsi Bengkulu pada kedalaman 57 km.

"Dampak gempabumi yang digambarkan oleh Peta tingkat guncangan (shakemap) BMKG menunjukkan bahwa dampak gempabumi berupa guncangan dirasakan di daerah Manna pada skala II SIG-BMKG atau III MMI, informasi dirasakan dari masyarakat menunjukkan bahwa dampak gempabumi tersebut dirasakan di Kepahiang, Seluma dan Liwa II SIG-BMKG (III- IV MMI)," kata Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG M Riyadi dalam keterangannya yang diterima Infopublik, Kamis (22/3).

Dijelaskannya, ditinjau dari kedalaman hiposenternya, tampak bahwa gempabumi ini termasuk dalam klasifikasi gempabumi dangkal akibat aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia tepatnya di zona Megathrust yang merupakan zona subduksi lempeng yang berada di Samudera Hindia sebelah barat Sumatra.

Konvergensi kedua lempeng tersebut membentuk zona subduksi yang menjadi salah satu kawasan sumber gempabumi yang sangat aktif di wilayah Sumatra. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi ini dipicu oleh penyesaran Naik-oblique (Oblique-Thrust).

"Hingga pukul 07.45 WIB, Hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempabumi susulan (aftershock). Kepada masyarakat dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya," pungkas Riyadi.