Jakarta, InfoPublik - Provinsi Maluku Utara memiliki banyak keindahan alam, keragaman budaya, letak geografis yang strategis, ditunjang dengan panorama bawah laut yang indah. Banyaknya potensi tersebut akan mampu membuat sektor pariwisata di Maluku Utara terus berkembang apabila didukung dengan penyelenggaraan event-event pariwisata.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya secara resmi melakukan Launching Calendar of Events (CoE) Maluku Utara 2018 yang ditandai oleh pemukulan alat musik tifa didampingi oleh beberapa jajaran dari Kementerian Pariwisata dan pemerintah daerah Maluku Utara. Peluncuran CoE Maluku Utara 2018 ini turut dihadiri oleh Plt. Gubernur Maluku Utara, M. Natsir Thaib, dan para Bupati di Provinsi Maluku Utara, serta Sultan Ternate dan Sultan Tidore. 

 

“Dalam menerapkan CoE harus memiliki kriteria utama yaitu penyelenggaraan yang profesional dan dilaksanakan tepat waktu. Ada atau tidak ada pejabat, event harus berlangsung karena tujuannya adalah untuk wisatawan,” kata Menpar Arief Yahya saat memberi kata sambutan dalam acara Launching Calendar of Event Maluku Utara, di Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata Jakarta, Selasa (13/3) malam.

Mengambil tema “Pesona Kie Raha Mengguncang Dunia”, Provinsi Maluku Utara diharapkan mampu mempromosikan potensi pariwisata yang dimiliki ke tingkat dunia. Karena itulah, menurut Menpar, event-event yang ada dalam CoE Maluku Utara harus memiliki _cultural values_ dan _commercial values_ sehingga akan berdampak positif dalam meningkatkan perekonomian masyarakat.

Sepanjang 2018, Provinsi Maluku Utara telah menyiapkan 33 event, tiga di antaranya masuk dalam Top 100 CoE Nasional 2018. Ketiganya terdiri dari Festival Tidore (Kota Tidore Kepulauan, 23 Maret–12 April 2018), Festival Teluk Jailolo (Kabupaten Halmahera Barat, 3–5 Mei 2018), dan Festival Kora-Kora (Kota Ternate, 1-3 Desember 2018).

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Maluku Utara H. Muhammad Natsir Thaib menegaskan kemajuan pariwisata Maluku Utara telah dirasakan dengan ditetapkannya Pulau Morotai sebagai satu di antara 10 destinasi prioritas untuk dijadikan menjadi “Bali Baru” yang percepatan pembangunannya tengah dilakukan. “Pariwisata di Maluku Utara semakin berkembang dengan didukung unsur 3A (atraksi, amenitas, dan aksesibilitas) yang semakin baik,” kata Natsir Thaib.

Selain itu, lanjutnya, Provinsi Maluku Utara ingin mengembangkan diri menjadi destinasi _marine tourism_ kelas dunia, mengingat potensi wisata bahari yang dimiliki serta letak geografisnya sangat menunjang untuk mewujudkan keingingan itu. “Di antara pulau-pulau yang ada di Maluku Utara sangat cocok dikembangkan sebagai marine tourism. Saat ini di Pulau Jailolo sudah mulai dikembangkan _marine tourism_ oleh pengusaha profesional,” kata Natsir Thaib.

Ternate, Tidore, Bacan dan  Jailolo sejak lama sekitar Abad XIII sudah dikenal masyarakat dunia sebagai sumber rempah dunia, dan Maluku Utara memiliki keunggulan dalam wisata sejarah karena terdapat banyak benteng peninggalan dari Bangsa Portugis, Spayol, Inggris, serta situs peninggalan Perang Dunia II dari Jepang dan Amerika Serikat.

Peluncuran CoE Provinsi Maluku 2018 diharapkan mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan yang ditargetkan mencapai 11.000 wisatawan mancanegara (wisman) dan 350.000 pergerakan wisatawan nusantara (wisnus), sekaligus mendukung target pariwisata nasional tahun 2018 sebanyak 17 juta wisman dan 270 juta wisnus.