Surabaya, InfoPublik – Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi mengemukakan, dalam dua dekade terakhir, persoalan radikalisme dan terorisme kian sering terjadi di wilayah Indonesia. Pasukan khusus dari Polri, yakni Densus 88 Anti Teror, juga sering dibantu pasukan elit dari TNI AD seperti Kopassus.

Kini, TNI AL juga menyatakan siap memberikan bantuan pengamanan dan penaggulangan anti teror dan radikalisme di Indonesia.

“Kita punya pasukan elit. Ada Denjaka (Detasemen Jalamangkara), Kopaska (Komando Pasukan Katak) dari Marinir. Jika diminta, kami siap menurunkan tiga pasukan elit TNI AL ini untuk atasi radikalisme,” kata Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi saat ditemui di Koarmatim Ujung Surabaya, Rabu (6/12).

Ia menjelaskan, para pasukan elit AL itu sudah sangat terlatih. “Kita selalu melatih dan menyiapkan para pasukan elit ini untuk terus dibekali kemampuan peperangan khusus. Mereka ini prajurit pilihan dan terbaik,” tuturnya.

Dalam tugas peperangan, pasukan khusus ini memiliki kemampuan anti teror hingga evakuasi tempur. Bahkan, latihan secara ekstrim juga dilakukan untuk meningkatkan kemampuan pasukan, termasuk pasukan di kapal perang.

Perlu diketahui, pasukan elit Denjaka adalah sebuah detasemen peanggulangan teror aspek laut TNI Angkatan Laut. Denjaka merupakan satuan gabungan antara personel Kopaska dan Taifib Korps Marinir TNI-AL.

Anggota Denjaka dididik di Bumi Marinir Cilandak, Jakarta Selatan, dan harus menyelesaikan suatu pendidikan yang disebut PTAL (Penanggulangan Teror Aspek Laut).

Lama pendidikan ini adalah enam bulan. Denjaka dikhususkan untuk satuan anti teror walaupun mereka juga bisa dioperasikan di mana saja, terutama anti teror aspek laut. Kemapuan satu prajurit Denjaka yakni setara kemampuan 120 tentara.

Untuk pasukan elit Kopaska, didirikan sejak 31 Maret 1962 oleh Presiden Soekarno untuk mendukung kampanye militer di Irian Jaya. Saat ini Kopaska terbagi menjadi dua Komando, Satuan Pasukan Katak Armatim di Ujung, Surabaya, dan Satuan Pasukan Katak Armabar di Pondok Duyung, Jakarta Utara.

Tugas utama mereka adalah menyerbu kapal dan pangkalan musuh, menghancurkan instalasi bawah air, penyiapan perebutan pantai dan operasi pendaratan kekuatan amfibi. Kemampuan satu prajurit Kopaska yakni setara kemampuan 24 tentara.

Tugas utama dari pasukan ini adalah peledakan/demolisi bawah air termasuk sabotase/penyerangan rahasia kekapal lawan dan sabotase pangkalan musuh, torpedo berjiwa (kamikaze), penghancuran instalasi bawah air, pengintaian, mempersiapkan pantai pendaratan untuk operasi amfibi yang lebih besar serta antiteror di laut/maritime counter terorism .

Jika tidak sedang ditugaskan dalam suatu operasi, tim Kopaska dapat ditugaskan menjadi pengawal pribadi VIP seperti Presiden dan Wakil Presiden Indonesia. (MC Diskominfo Prov Jatim/non-afr/toeb)