Wini, InfoPublik - Selain memberikan pelayanan lebih baik kepada masyarakat sekitar perbatasan, fasilitas baru Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Wini, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), juga disiapkan menyongsong rencana Timor Leste menjadikan Distrik Oecusse sebagai kota transit terpadu.

Demikian menurut Kepala PLBN Wini Don Gasper Ukat kepada InfoPublik di kantornya, Kamis (17/8). “Ada rencana pemerintah Timor Leste menjadikan Oecusse sebagai kota transit, sehingga ke depan wilayah enclave negara tetangga tersebut makin ramai yang juga diperkirakan berdampak pada meningkatnya jumlah pelintas batas,” jelasnya.

Saat ini, rata-rata perhari, jumlah pelintas batas di PLBN yang belum diresmikan ini, hanya berkisar 50-100 orang saja. Jauh lebih kecil dibandingkan jumlah pelintas batas di PLBN Motaain, yang telah lebih dulu diresmikan Presiden, yakni rata-rata mencapai 500 orang perhari.

Meski demikian, PLBN Terpadu Wini tidak kalah megah dibandingkan sejumlah PLBN lain yang juga telah direnovasi pemerintah. PLBN Wini  memiliki total luas bangunan mencapai 5.025,7 meter persegi. Bangunan utama  berdampingan jembatan timbang, pemindai kendaraan, pemeriksaan kendaraan kargo, dan pemeriksaan terpadu mobil. Pos dilengkapi dengan gudang sita berat dan ringan, lapangan penimbunan, utilitas, kennel, check point, monumen garuda, gerbang lintas batas negara, parkir tamu negara, hingga helipad.

Tugas Don sebagai kepala PLBN yang baru dijabatnya pertengahan Agustus ini, adalah untuk mengkoordinasikan pelayanan dari sejumlah instansi terkait. Antara lain, petugas bea cukai, imigrasi, karantina, dan aparat keamanan.

Ada dua kelompok besar pelintas batas  di PLBN Wini. Pertama, warga Distrik Oecusse, Timor Leste, yang dikarenakan berada secara enclave di wilayah Indonesia, sehingga mau tudak mau mereka akan melintasi wilayah RI bila ingin berurusan ke Dili, ibukota Timor Leste di bagian timur Pulau Timor. Demikian pula sebaliknya, banyak orang dari Dili berurusan di Oecusse.

Kelompok pelintas batas kedua adalah warga Wini, Kecamatan Insana Utara, yang banyak memiliki hubungan kekerabatan dengan warga Desa Mopu sebagai bagian dari Distrik Oecusse yang terdekat dengan tapal batas.

Menurut Steven Boik, petugas keamanan PLBN Wini, ada berbagai acara adat yang mengharuskan warga semarga untuk berkumpul di rumah marga mereka. Sejumlah marga ada yang memliki rumah marga di Mopu, ada pula di Wini. Padahal, anggota kekerabatan mereka tersebar di kedua desa berlainan negara itu. “Misalnya saat baru panen jagung, mereka yang satu marga harus berkumpul di rumah marga. Itulah sebabnya mereka harus melintasi batas negara,” jelasnya.