Jakarta, InfoPublik - Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi meminta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan dukungan berupa kualitas informasi cuaca dan iklim sehingga konektivitas antar wilayah dapat berjalan dengan selamat dan aman, hal tersebut juga dalam rangka menyukseskan Program Transportasi Nasional.

Dikatakan Menhub Budi, posisi geografis Indonesia yang terdiri dari 30 persen daratan dan 70 persen lautan, dilalui oleh ring-of-fire sehingga berpotensi menimbulkan tsunami bila terjadi gempa dan berada di atas garis khatulistiwa yang terkena secara langsung dampak gangguan cuaca dan iklim ektrim. Oleh karena itu Indonesia rentan terhadap bencana hidro-meteorologi dan bencana geologis.

"Perubahan iklim yang sedang dan akan terjadi di Indonesia memberikan tantangan bagi BMKG dalam 5 tahun ke depan, yakni bagaimana agar informasi cuaca, iklim dan gempa bumi dapat mendukung keberhasilan RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) 2015–2019," ujar Menhub Budi saat memberikan arahan sekaligus membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) BMKG di Jakarta, Selasa (25/4).

Lebih lanjut Menhub mengatakan, beberapa program pembangunan nasional yang dilakukan pemerintah memerlukan peran BMKG agar berjalan lancar. Pertama adalah program kelautan dan kemaritiman, dimana pemerintah akan membangun Tol Laut dengan target 24 Pelabuhan laut sebagai hub dan feeder, 60 pelabuhan penyeberangan, dan akan membangun 1000 kampung nelayan. Untuk mendukung program tersebut diharapkan BMKG juga meningkatkan kuantitas dan kualitas Stasiun Meteorologi Maritim dan Stasiun Meteorologi, agar informasi cuaca dan gelombang laut dapat dipancarkan secara luas. 

"Program Tol laut ini kan kita sasarkan ke tempat-tempat baru yang tidak ada perdagangan, biasanya segala sesuatunya juga baru, bahkan informasi cuaca juga tidak ada. Dalam hal ini, BMKG bertugas tidak hanya memberikan informasi cuaca dan iklim, melainkan juga menjamin para nelayan dan pelaut dapat memperoleh informasi yang mendukung keselamatan pelayaran dan aktivitas produktif di lautan kita," jelas Menhub.

Kedua, program konektivitas nasional. Saat ini Pemerintah telah memiliki 237 bandar udara untuk mendukung kelancaran transportasi udara. Dalam 5 tahun ke depan, Pemerintah berencana akan membangun menjadi 252 bandar udara. Untuk itu diminta agar BMKG meningkatkan kuantitas dan kualitas Stasiun Meteorologi Penerbangan, termasuk dilengkapi dengan sarana, prasarana dan SDM yang memadai agar penyebarluasan informasi cuaca menjangkau seluruh bandara tersebut.

Ketiga, program mitigasi bencana alam. Berdasarkan statistik BNPB tahun 2017, ancaman tanah longsor dan tsunami di Indonesia menempati peringkat 1 di dunia. Oleh karena itu, diminta BMKG meningkatkan jumlah Stasiun Geofisika yang tersebar di seluruh Indonesia dan jumlah stasiun pengamatan yang tersedia agar sebanding dengan jumlah risiko daerah rawan bencana gempa bumi dan tsunami. 

Keempat, program kedaulatan pangan. Pemerintah telah menargetkan produksi padi 82 juta ton pada 2019, melalui pencetakan sawah baru seluas 1 juta ha, pembangunan kampung benih dan pembangunan irigasi. Untuk itu diharapkan BMKG dapat meningkatkan kuantitas dan kualutas Stasiun Klimatologi yang dapat memberikan layanan informasi iklim hingga mampu menjangkau seluruh kecamatan sebagai sentra pangan.

Terkait dengan program tol laut dan konektivitas, Menhub mengarahkan agar BMKG melakukan sinergi dengan Ditjen Perhubungan Udara dan Ditjen Perhubungan Laut. "Perlu dilakukan sinergi antara BMKG dengan Ditjen Perhubungan Udara dan Ditjen Perhubungan Laut untuk mendukung upaya peningkatan keselamatan penerbangan dan transportasi laut. BMKG juga perlu menyelaraskan laju kencang kerja profesionalitasnya dengan kebutuhan laju pembangunan bandara dan pelabuhan di seluruh Indonesia," kata Menhub.

Selanjutnya Menhub juga meminta BMKG untuk melakukan inovasi dalam menyampaikan informasi agar dapat diterima dan dimengerti oleh masyarakat luas. "BMKG ini kan penyuplai informasi berkaitan dengan cuaca. Kalau hanya terpaku dengan penyebaran melalui press release saja, tidak semua orang mengerti. Harus ada inovasi, seni tertentu. Misalnya akun sosial media @infobmkg yang diintegrasikan dengan produk aplikasi navigasi perjalanan," ujar Menhub.