Resmikan Perpustakaan Grabagan, Bupati Tuban Sebut Bukti Konkret Komitmen Pengentasan Buta Huruf

:


Oleh MC KABUPATEN TUBAN, Selasa, 6 Juni 2023 | 18:40 WIB - Redaktur: Juli - 130


Tuban, InfoPublik - Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky meresmikan Perpustakaan Kecamatan Grabagan, Selasa (6/6/2023).

Turut hadir dalam peresmian tersebut, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappeda Litbang) Kabupaten Tuban, Joko Sarwono, Kepala Badan Pengelolaan Keuangan, Pendapatan dan Aset Daerah (BPKPAD), Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Nur Khamid, Forkopimcam, Kepala Desa, serta seluruh Kepala Sekolah SD/SMP dan lembaga pendidikan lainnya di kecamatan setempat.

Bupati Tuban usai peresmian mengungkapkan bahwa, pendirian Perpustakaan Grabagan tersebut merupakan bukti konkret komitmen kepala daerah dalam pengentasan buta huruf di Indonesia.

Menurutnya, pembangunan perpustakaan di kecamatan-kecamatan dapat meningkatkan minat baca masyarakat. Di samping itu, sebagai wadah melek literasi melalui akses buku yang lebih beragam, penggalian pengetahuan, berdiskusi, berkarya, dan memunculkan gagasan baru untuk membantu pembangunan di Kabupaten Tuban.

Terkait itu, bupati meminta agar perpustakaan selalu memperbarui buku, baik fisik maupun digital, berinovasi, dan menerima karya ilmiah atau karya tulis dari masyarakat. Tak hanya itu, pemanfaatan perpustakaan juga harus lebih meluas.  “Tak melulu tempat untuk membaca, namun juga diskusi, atau bedah buku, kitab-kitab kuning misalnya, atau karya ilmiah lain,” ucapnya.

Bupati juga berharap, pemerataan akses buku melalui perpustakaan kecamatan, dapat menciptakan generasi yang kritis dan inovatif,  yang akan membangun Tuban masa depan.

“Saya membayangkan kita akan punya generasi muda yang melek literasi, gemar membaca, kritis, penuh dengan ide cerdas,” ungkapnya.

Ia berpesan agar seluruh pihak menjaga, merawat, dan memanfaatkan perpustakaan tersebut dengan baik. Pemkab melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan akan terus berinovasi  guna menciptakan kecintaan masyarakat akan perpustakaan.

“Kita terus berikhtiar untuk menumbuhkan minat masyarakat membaca, apakah dengan munculnya perpustakaan digital, buku digital, atau audio book,” pungkas bupati. 

Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tuban, Nur Khamid dalam wawancaranya bersama reporter Diskominfo-SP menyatakan, dengan peresmian Perpustakaan Grabagan, total  Pemkab Tuban telah membangun Perpustakaan di 13 kecamatan, yaitu di Jatirogo, Grabagan, Singgahan, Tambakboyo, Jenu, Tuban, Semanding, Kenduruan, Widang, Rengel, Kerek, Senori, dan Palang.  “Insyaallah, sesuai harapan bupati tadi, kecamatan lain akan menyusul,” tambahnya.

Masih menurut Khamid, Perpustakaan Grabagan memang menjadi prioritas, hingga langsung dianggarkan pada P-APBD 2022 dengan besaran anggaran mencapai Rp800 juta. Pengerjaan dimulai   Oktober hingga Desember 2022. “Biasanya pakai DAK, tapi Grabagan ini prioritas karena ada lahan, dan memang strategis,” imbuhnya.

Semangat literasi selalu digaungkan oleh dinas yang ia pimpin, namun menurut Khamid, pemerintah tidak bisa sendiri dalam menumbuhkan minat baca dan literasi di masyarakat. Upaya tersebut harus disertai  kolaborasi dengan semua pihak, hingga memunculkan inovasi baru yang mengikuti zaman dan kebutuhan masyarakat.

Ia mengaku, pihaknya telah melakukan kerja sama dengan sekolah-sekolah untuk menjadwalkan kunjungan, perpustakaan keliling, adanya layanan Tuban Digital Library (Tulib), serta terus memenuhi  kebutuhan buku yang beragam. “Bahkan, kita juga akan mengembangkan audio book ke depannya agar tidak tertinggal oleh tren zaman saat ini,” ungkapnya.

Lokasi perpustakaan  Kecamatan Grabagan cukup strategis, yaitu berada di Desa Grabagan, berdekatan dengan Koramil dan KUA Kecamatan Grabagan, dengan pemandangan perbukitan indah di area belakang. Koleksi buku di Perpustakaan Grabagan mencapai 2.420 eksemplar, ditunjang dengan fasilitas lengkap lainnya.

Untuk koleksi buku Perpusda sendiri, hingga saat ini, total buku yang dimiliki Perpusda Tuban mencapai 300 ribu eksemplar, dan 150 ribu buku digital. Jumlah tersebut tersebar di 13 perpustakaan kecamatan.

Dilansir dari laman kominfo.go.id, UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001 persen. Artinya, dari 1.000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca.

Riset berbeda bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa. (nurul jamilah/hei)