Penguatan Logistik Dalam Negeri sebagai Antisipasi Resesi 2023

:


Oleh Dian Thenniarti, Minggu, 23 Oktober 2022 | 20:55 WIB - Redaktur: Untung S - 665


Jakarta, InfoPublik - Salah satu upaya yang perlu dilakukan dalam menghadapi ancaman resesi pada 2023 mendatang, adalah orientasi dan penguatan logistik domestik berdasarkan kekuatan potensi permintaan dan pasokan dalam negeri.

"Adapun potensi permintaan, tercermin dari jumlah penduduk Indonesia sebanyak 273,87 juta jiwa dan tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 3,69 persen pada 2021. Sementara, potensi pasokan berupa komoditas yang beragam di berbagai wilayah Indonesia," jelas Chairman Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, dalam keterangan resminya pada Minggu (23/10/2022).

Lebih lanjut ia menjelaskan, dalam mengantisipasi ancaman resesi 2023, harus dilakukan penguatan dan peningkatan efisiensi logistik dan rantai pasok terutama untuk mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasok global.

Ketergantungan ekspor dan impor dengan sejumlah negara harus dipertimbangkan sebagai antisipasi atas risiko resesi di beberapa negara mitra, terutama Tiongkok sebagai mitra dagang terbesar Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada September 2022 nilai ekspor non-migas Indonesia ke Tiongkok sebesar USD6,16 miliar atau 26,23 persen dari total ekspor non-migas, sementara impor dari Tiongkok sebesar USD5,69 miliar atau 34,74 persen dari total impor non-migas Indonesia.

Ketergantungan ekspor-impor itu harus diwaspadai karena pertumbuhan ekonomi di Tiongkok beberapa waktu terakhir. Pada Kuartal II 2022 ekonomi Tiongkok tumbuh 0,4 persen (year on year/yoy) atau terkontraksi 4,4 persen dibanding kuartal sebelumnya

Antisipasi juga harus dilakukan mengingat impor terbesar Indonesia adalah bahan baku/penolong. Dari nilai impor pada September 2022 sebesar USD19,81 miliar, 75,21 persen berupa bahan baku/penolong, 16,76 persen barang modal, dan 8,03 persen barang konsumsi.

Setijadi mengatakan, dalam jangka panjang, perlu dikembangkan rantai pasok beberapa produk dan komoditas dari hulu ke hilir (end-to-end) untuk mengurangi ketergantungan impor. Untuk industri farmasi, misalnya, sekitar 95 persen bahan baku berasal dari impor.

"Peningkatan efisiensi logistik dan rantai pasok akan berdampak terhadap penurunan harga produk dan komoditas yang sangat penting pada situasi resesi. Dalam perspektif global, peningkatan daya saing produk dan komoditas berpotensi meningkatkan volume ekspor," imbuhnya.

Foto: Istimewa