BPPTKG: Tinggi Kubah Lava Gunung Merapi Bertambah 1 Meter 

:


Oleh Eko Budiono, Sabtu, 2 Oktober 2021 | 08:13 WIB - Redaktur: Untung S - 201


Jakarta, InfoPublik - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyatakan tinggi kubah lava di sebelah barat daya Gunung Merapi bertambah 1 meter berdasarkan pengamatan selama sepekan.

Hal itu disampaikan Kepala BPPTKG Hanik Humaida melalui keterangan tertulisnya, Jumat (1/10/2021).
 
Menurut Hanik, penambahan tinggi kubah lava itu berdasarkan hasil analisis morfologi dari Stasiun Kamera Deles 5, Tunggularum, Ngepos, dan Babadan 2 pada periode 24—30 September 2021.

"Teramati penambahan ketinggian kubah lava barat daya sekitar lebih kurang 1 meter," kata Hanik.

Dari hasil analisis itu, BPPTKG mencatat volume kubah lava barat daya sebesar 1.630.000 meter kubik dan kubah tengah sebesar 2.854.000 meter kubik.

Sepanjang pengamatan selama sepekan, kata dia, Merapi 67 meluncurkan guguran lava ke arah barat daya dengan jarak luncur maksimal 1.800 meter.

Dalam sepekan, Gunung Merapi tercatat mengalami 244 kali gempa low frekuensi (LF), 1.268 kali gempa fase banyak (MP), 1.200 kali gempa guguran (RF), 338 kali gempa hembusan (DG), dan enam kali gempa tektonik (TT).

"Intensitas kegempaan pada minggu ini masih cukup tinggi," katanya.

BPPTKG hingga saat ini mempertahankan status aktivitas vulkanis Gunung Merapi pada Level III atau Siaga.

Warga diminta waspadai potensi dampak guguran lava dan awan panas Gunung Merapi di sektor selatan-barat daya yang meliputi Sungai Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih.

"Kalau terjadi letusan, lontaran material vulkanis dari Gunung Merapi dapat menjangkau area dalam radius 3 kilometer dari puncak gunung," kata Hanij.
 
Sebelumnya, BPPTKG menyatakan Gunung Merapi mengalami 129 kali gempa guguran selama periode pengamatan pada Rabu (29/9/2021) mulai pukul 00:00-24:00 Waktu Indonesia Barat (WIB).

Kepala BPPTKG, Hanik Humaida menyebutkan selain gempa guguran, pada periode pengamatan itu juga tercatat 128 kali gempa hybrid atau fase banyak, 48 kali gempa hembusan, 52 kali gempa frekuensi rendah, serta dua kali gempa tektonik.
 
(Badan Geologi)