Depok, InfoPublik – Pencegahan perilaku adiktif pada remaja tidak cukup dilakukan dengan melarang atau menjelaskan bahaya rokok dan penggunaan gim secara berlebihan. Universitas Indonesia (UI) mendorong keluarga membangun komunikasi yang terbuka dan asertif agar rumah menjadi ruang pertama bagi remaja untuk menyampaikan persoalan yang dihadapi.
Pendekatan tersebut diterapkan Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) UI melalui program pengabdian kepada masyarakat (pengmas) di Jatimekar, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi. Program ini membekali orang tua dan remaja dengan keterampilan komunikasi untuk mencegah perilaku adiktif, khususnya kecanduan gim dan kebiasaan merokok.
Upaya tersebut relevan dengan tantangan kesehatan masyarakat yang masih dihadapi Indonesia. Data Kementerian Kesehatan pada 2024 mencatat sekitar 70 juta perokok aktif di Indonesia, dengan 7,4 persen berasal dari kelompok usia 10–18 tahun. Sementara itu, Global Youth Tobacco Survey (GYTS) mencatat prevalensi perokok pada pelajar usia 13–15 tahun meningkat dari 18,3 persen pada 2016 menjadi 19,2 persen pada 2019.
Ketua tim pengmas dari Klaster Mental Health & Psychiatric Nursing FIK UI, Herni Susanti, mengatakan keluarga memiliki peran penting dalam membangun ketahanan remaja menghadapi berbagai perilaku berisiko. Karena itu, pencegahan adiksi perlu menyentuh kualitas hubungan antara orang tua dan anak. Komunikasi yang baik dapat membantu remaja merasa aman untuk bercerita sekaligus memberi ruang bagi orang tua memahami persoalan yang dihadapi anak.
“Kami ingin keluarga jadi tempat pertama bagi anak untuk berbicara tentang masalahnya. Makanya, fokusnya bukan hanya edukasi soal bahaya adiksi, tapi juga bagaimana caranya orang tua dan anak bisa ngobrol dengan baik dan nyaman,” ujar Herni, dalam keterangan tertulis yang diterima InfoPublik, Selasa (6/10/2026)
Program yang digagas FIK UI tersebut dilaksanakan pada pertengahan September 2026 secara kolaboratif dengan Komunitas Saung Belajar (KSB). Kegiatan dipimpin Prof. Herni bersama tim Departemen Keperawatan Jiwa FIK UI, yakni Novy Helena Catharina Daulima, Ria Utami Panjaitan, dan Dian Fitria.
Program juga melibatkan akademisi Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma Dr. Anugriaty Indah Asmarany serta pendiri KSB Citra Amelia. Sebanyak 40 peserta yang terdiri atas 20 pasangan orang tua dan remaja mengikuti program dalam dua tahap visitasi intensif.
Pada tahap pertama, peserta diajak memahami mekanisme munculnya adiksi gim dan rokok serta berbagai tantangan yang dapat memengaruhi remaja, termasuk tekanan dari lingkungan pertemanan atau peer pressure.
Peserta kemudian memperoleh pelatihan komunikasi asertif melalui teknik Say-No dan I-Language. Teknik tersebut membantu anggota keluarga menyampaikan pendapat, kebutuhan, maupun penolakan secara tegas tanpa harus memicu konflik.
Pendekatan ini memberi bekal kepada orang tua untuk membangun batasan yang jelas tanpa mengandalkan komunikasi yang bersifat menghakimi atau mengekang. Di sisi lain, remaja dilatih menyampaikan sikap dan kebutuhan secara lebih terbuka.
Pada tahap kedua, orang tua dan remaja mengevaluasi penerapan komunikasi di lingkungan rumah. Mereka menyusun strategi pengawasan yang tetap memberi ruang bagi kemandirian remaja serta membuat aturan bersama yang disepakati seluruh anggota keluarga.
Rangkaian program ditutup dengan penandatanganan pakta komitmen keluarga dan penyusunan rencana tindak lanjut yang dapat diterapkan secara mandiri di rumah.
Pendiri KSB Citra Amelia mengatakan pendekatan berbasis komunitas dibutuhkan karena masih banyak orang tua yang memahami risiko perilaku adiktif, tetapi belum mengetahui cara membangun komunikasi yang efektif dengan anak.
“Banyak orang tua di sini sebenarnya bingung harus mulai dari mana. Program ini sangat membantu anak dan orang tua untuk jadi lebih dekat dan terbuka untuk berkomunikasi, sehingga anak tidak lari ke adiksi,” kata Citra.
Penguatan komunikasi keluarga tidak hanya diarahkan untuk mencegah kecanduan gim dan kebiasaan merokok. Hubungan yang lebih terbuka antara orang tua dan remaja juga menjadi bagian dari upaya mendukung kesehatan mental, ketahanan keluarga, serta tumbuh kembang generasi muda.
Melalui program tersebut, UI menunjukkan peran perguruan tinggi tidak berhenti pada pendidikan dan penelitian. Kepakaran akademik juga diterjemahkan menjadi intervensi berbasis masyarakat yang dapat diterapkan langsung oleh keluarga untuk menghadapi persoalan sosial dan kesehatan yang berkembang di lingkungan remaja.