Jakarta,InfoPublik - Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) mewacanakan untuk mengubah sistem penyimpanan persediaan dari beras menjadi gabah.

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengugkapkan, setelah melakukan evaluasi awal, beras adalah komoditas pangan yang memiliki keterbatasan usia. Artinya, bahan pangan itu tidak bisa disimpan terlalu lama apa lagi hingga berbulan-bulan. Maka dari itu, ia mengatakan Bulog akan mulai mengubah proses penyimpanan.

"Ke depan Bulog tidak akan lagi menyimpan beras, menyetok beras dalam waktu lama. Apalagi dengan kondisi penyimpanan kita yang masih tertinggal jauh dari sistem yang baik dan modern," ujar dalam Audiensi dengan Persatuan Penggilingan Padi dan Pedagang Beras Indonesia (Perpadi)  di kantor Bulog, Jakarta, Kamis (17/5).

Sebagai gantinya, ia menyatakan pihaknya akan melakukan penyimpanan dalam bentuk gabah. Gabah yang diserap dari petani tidak akan langsung diproses menjadi beras.

"Suatu ketika kita perlu baru kita giling. Cadangan pemerintah nanti juga dalam bentuk gabah. Tapi pasti tetap ada yang siap pakai tapi tidak akan besar. Tujuannya apa? Tidak boleh ada lagi beras yang kelamaan disimpan, lalu berkutu, dijual ke saudara kita yang tidak mampu," tegas Buwas.

Dari segi penyaluran, ia mengatakan tidak akan lagi melakukan operasi pasar. Pasalnya, ia menilai kegiatan itu hanya memperlihatkan bahwa perseroan tidak memiliki perencanaan yang matang.

"Saya tidak mau ada operasi pasar. Itu kaya pemadam kebakaran. Artinya tidak ada perencanaan yang matang pada awalnya," ucapnya.

Ia mengatakan ada banyak hal yang harus mulai dibenahi dalam proses operasional perseroan.

"Maka dari itu, ke depan tentu akan ada perubahan sesuai perkembangan. Pastinya bertahap. Tidak mungkin secara langsung," tandasnya.

Sementara Ketua Umum Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Soetarto Alimoeso mengatakan ide tersebut bisa saja dilakukan. Pasalnya, skema penyimpanan dalam bentuk gabah memang sudah dilakukan sejak zaman nenek moyang.

"Logikanya menyimpan dalam bentuk gabah akan lebih fresh. Itu sudah dilakukan turun temurun dari nenek moyang dulu," ujarnya.

Kendati demikian, ia mengatakan menyimpan gabah sama sulitnya dengan menyimpan beras. Pemerintah tetap memerlukan fasilitas dan kesiapan seperti alat pengering yang sempurna serta tempat yang juga lebih luas karena volume gabah akan lebih besar ketimbang beras.

"Kalau produksi kita banyak, arahnya memang pasti akan ke sana. Akan ada yang disimpan dalam bentuk gabah untuk jangka panjang dan beras untuk jangka pendek. Tetapi, kalau kita memiliki teknologi penyimpanan yang baik, beras pun bisa disimpan sampai satu tahun. Kualitasnya tidak berubah," terangnya