Perasaan Ujang begitu senang ketika dapat mengikuti pelatihan berbicara di depan umum (public speaking) dan penyiaran bagi penyandang disabilitas di Gedung Pramuka, Jalan R. E. Martadinata, Kota Bandung, Selasa (24/4/2018). Kegiatan yang dihelat oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Bandung tersebut telah memberikan banyak manfaat bagi pengembangan dirinya.

Pemuda berusia 27 tahun tersebut mengaku, kepercayaan dirinya muncul terutama setelah belajar public speaking. Pelatihan semacam itu merupakan kali kedua setelah pada tahun 2011 memperolehnya dari instansi lain. Makanya ketika mendapatkan undangan untuk mengikuti pelatihan, Ujang tidak berpikir panjang dan langsung menyediakan waktu.

“Dulu masih malu-malu, masih minder, ngobrol sama orang lain juga gugup, takut karena punya kekurangan. Alhamdulillah sekarang saya bisa bicara dengan siapapun tanpa harus merasa malu atas kelemahan yang saya miliki,” ungkap pria bernama lengkap Ujang Sulaeman.

Menurut warga Pasirkoja itu, kegiatan yang menghadirkan pelatih kenamaan, Dj Arie tersebut sangat penting untuk diikuti karena selain membuatnya percaya diri untuk berinteraksi dengan orang lain. Selain itu juga dapat dimanfaatkan untuk keperluan seperti presentasi, menjadi pembawa acara, dan lain sebagainya. Dia pun mengaku, girang bukan kepalang dapat kembali dilatih Dj Arie.

“Belajar public speaking sangat penting terutama (mengatasi,red) masalah keminderan. Kalau seseorang sudah bisa mengatasi keminderan otomatis akan mampu menunjukkan kepercayaan diri, kemampuan diri. Di balik kelemahan secara fisik, pasti memiliki kelebihan lainnya,” tutur Ujang yang hobi bermain gitar ini.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Diskominfo Kota Bandung, Ahyani Raksanagara mengemukakan, pihaknya melalui UPT Radio Sonata menyelenggarakan pelatihan penyiaran dan public speaking kepada beberapa komponen di masyarakat. Kegiatan tersebut digelar selama empat hari dari Senin hingga Kamis dengan peserta mulai dari anggota Pramuka, penyandang disabilitas, jajaran Diskominfo Kota Bandung, dan para penyiar radio Sonata.

“Inginnya masyarakat di Bandung paham berkomunikasi dan dapat memanfaatkan Radio Sonata sebagai milik masyarakat Bandung. Masyarakat diharapkan tidak hanya jadi objek yang mendengarkan saja, melainkan berkontribusi entah memberikan bahan atau ikut menjadi bagian dalam penyiaran di Radio Sonata,” paparnya.

Ahyani menambahkan, pada dasarnya manusia itu makhluk sosial yang berkomunikasi, ada masalah dalam hubungan pun seringkali karena komunikasi. Maksud A diterima B, dia punya ide tapi tidak tersampaikan karena kurangnya kemampuan komunikasi. “Output kami ingin masyarakat langsung mengetahui bahwa ada ilmunya untuk berikomunikasi. Begitupun bagi kawan-kawan penyandang disabilitas, kami harap kegiatan ini mampu meningkatkan rasa percaya diri, dan mereka sadar bahwa mereka punya kemampuan,” tuturnya. (MCKotaBandung/Vira)