Saat kuberlindung dalam pelukan Mira
Langsung kukenal Disa
Hampir kutenggelam aneh senyum tawanya
Juga kukenal hei Corine
Baru terpesona lihat sinar matanya
Tambah kukenal Petty
Lagi kuterbuai dalam kisah khayalnya
Aku tak sadarkan diri
........

Sekitar dua dekade silam, lagu dari grup band asal Gang Potlot, Slank berjudul Poppies Lane Memories ini akrab ditelinga para pendengarnya termasuk saya yang kala itu masih berstatus mahasiswa. Saat itu rasa penasaran saya begitu tinggi tentang ada apa dengan gang Poppes yang terkenal seantero dunia. Akhirnya rasa penasaran saya itu terjawab tuntas ketika saya ditugaskan instansi tempat saya bekerja mengikuti suatu kegiatan di Pulau Dewata.

Rabu (25/4/2018) malam saya susuri gang yang menghubungkan Pantai Kuta dengan Jalan Raya Legian tepat di hadapan monumen peringatan bom bali tersebut. Pertama kali menjejakkan kaki di ujung Gang Poppies, saya disambut oleh pedagang cindera mata khas Bali yang menawarkan barang dagangannya dengan sangat ramah.

“Kami memang diinstruksikan oleh Pemerintah untuk bersikap seperti ini (ramah,red) kepada setiap wisatawan untuk menjaga citra Bali di mata dunia,” ujar Bli Kadek, salah satu pedagang souvenir yang saya ajak berbincang sembari beristirahat karena kaki-kaki Saya mulai terasa pegal setelah menyusuri setengah jalan dari Gang Poppies ini.

Bli Kadek selanjutnya menambahkan saking hati-hatinya Pemerintah Provinsi Bali dalam menjaga citra Bali, bahkan hal-hal yang bisa dibilang dianggap sepele di luar Bali semisal sampah yang berserakan atau trotoar pejalan kaki yang pecah sedikit saja harus segera ditangani dan diantisipasi dengan baik.

“Jadi Abang bisa membayangkan bagaimana susah payahnya kami membangun kembali citra Bali yang sempat rusak pada saat ledakan bom tempo hari,” lanjutnya.

Kembali ke Gang Poppies, Bli Kadek bercerita tentang asal mula penamaannya adalah karena pada tahun 1970-an ada sebuah restoran dengan nama Poppies dan untuk bisa mengakses kesana harus melalui gang ini.

“Entah siapa yang mulai mempopulerkan, akhirnya gang ini pun disebut Gang Poppies yang artinya gang menuju restoran Poppies,” ujar Bli Kadek lagi.

Gang Poppies memang surga bagi wisatawan baik asing maupun lokal khususnya backpacker. Di gang yang lebarnya hanya cukup untuk satu  mobil ini selain tersebar penginapan, mini market, café, restoran bahkan tempat pijat. Semua dengan harga yang sangat terjangkau oleh wisatawan berkantong terbatas namun tetap dengan pelayanan dan keramahan level bintang lima.

“Padahal dulu sebelum restoran Poppies berdiri, oleh warga gang ini dinamai gang memedi karena sepi, gelap, hanya ada beberapa rumah dengan penerangan obor. Yah bisa dibilang tempat jalan-jalannya makhluk halus-lah,” kenang Bli Kadek yang ternyata termasuk generasi kedua dari warga Bali yang menggantungkan nasibnya di gang ini sembari tertawa.

Tak terasa malam semakin larut dan segelas brem, minuman fermentasi khas Bali yang disajikan Bli Kadek sudah tandas. Saya pun berpamitan dengan Bli Kadek untuk melanjutkan perjalanan kembali ke hotel.

Saat hendak beranjak tiba-tiba saya didatangi seorang wanita muda yang langsung bertanya “Massage (pijit,red), Bang?” sembari memamerkan senyum ramah sedikit menggoda.

“Nah, ini juga termasuk makhluk halus yang saya ceritakan tadi, Bang,” seloroh Bli Kadek sembari tertawa.

Saya pun hanya bisa membalas dengan senyum. Ah…Gang Poppies, suasana dan keramahannya membuat saya berjanji dalam hati untuk kembali mengunjunginya suatu saat nanti.

Terima kasih Baliku
Untuk budaya dan alammu
Terima kasih untuk cantik gadismu
Dan kerasnya…
**** Balimu

Penulis: Harry S.P. Sagala
Peserta Bimbingan Teknis Media Center Daerah, Bali, April 2018
Editor: Elvira Inda Sari