Jakarta, InfoPublik - Beberapa hari yang lalu bangsa Indonesia memperingati hari lahir seorang pahlawan wanitanya, yaitu RA Kartini. Perjuangan Kartini kemudian menginspirasi jutaan kaumnya di era sekarang. 
Saat ini, kita bisa lihat keberadaan kaum perempuan di berbagai sektor pekerjaan. Bukan hanya pekerjaan yang hanya memerlukan pemikiran saja, akan tetapi pekerjaan yang menuntut kekuatan fisikpun mulai 
dilakukan oleh kaum Hawa. Salah satunya adalah sebagai anggota TNI. Dalam hal ini sebagai upaya untuk mengejawantahkan pasal 30 ayat 1 UUD 1945, yang berbunyi "tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara".

Salah satu contoh ada di ujung terluar wilayah Indonesia yaitu Papua. Mayor CPM (K) Salomina Toam, SiP sebagai Wakil Komandan Detasemen Polisi Militer XVIII/I, kota Sorong. Korps Polisi Militer sebagai kesatuan, bertugas menegakkan disiplin di kalangan prajurit TNI. Malah ada sebutan buat mereka yaitu sebagai polisinya tentara. Awal bergabung sebagai anggota TNI wanita pada tahun 1992 melalui program bintara umum militer sukarela (milsuk) X. 

"Pertama masuk saya di kecabangan Ajen (ajudan jenderal). Kemudian melanjutkan pendidikan sarcab (dasar kecabangan), saya masuk ke korps polisi militer. Saya suka melihat organisasi TNI sangat solid, dan saya tertarik dengan srikandi-srikandinya yaitu Kowad. Itu yang membuat saya termotivasi untuk menjadi anggota TNI. Selain itu, saya juga menyukai kegiatan fisik, " tutur Mayor CPM (K) Salomina Toam, SiP.

Segala tantangan selama masa pendidikan awal, meskipun kodratnya sebagai wanita bukan berarti ada pengecualian. Saat menjalani pendidikan dasar masuk sebagai anggota TNI, dia harus melalui porsi yang sama dengan rekan-rekannya para pria. Semua tantangan awal itu dihadapinya dengan baik. Sehingga dia memasuki jenjang pendidikan selapa (sekolah lanjutan perwira). Tugas awalnya adalah sebagai Pabung (perwira penghubung), dan tugas itu merupakan pertama kali dijalaninya sebagia anggota polisi militer. 

Seperti diketahui, Pulau Papua mengalami pemekaran wilayah. Dimana pada awalnya, hanya ada satu propinsi yaitu propinsi Papua. Kemudian, pulau tersebut dibagi dua yaitu Papua dan Papua Barat, dimana mayor Salomina bertugas. Kesulitan awal yang harus dihadapi adalah masalah wilayah yang luas dan baru berkembang. Terutama sekali masalah geografisnya. Penyesuaian-penyesuaian tersebut memiliki kadar tantangan yang luar biasa. Namun, dia meyakini semua itu bukan merupakan hambatan yang berarti baginya. 

"Tekad saya adalah, dimana ditugaskan tanggungjawab merupakan prioritas. Disinilah kami lebih mandiri untuk menjalankan tugas yang dipercayakan, " tegasnya saat ditanyakan bagaimana mengatasi kendala-kendala yang dihadapi. 

Sisi menarik adalah, adanya dukungan kuat dari institusi AD terhadap dirinya. Pimpinan AD memberikan peluang kepada dirinya, yaitu menjabat sebagai wakil komandan detasemen polisi militer di Sorong. Pada prinsipnya setiap anggota Kowad harus patuh dan loyal kepada perintah yang didapatkan. Hanya saja, ada satu hal yang patut disaari. Meskipun ibu dari seorang anak laki-laki ini merupakan anggota TNI, dia tidak bisa lepas dari kodratnya sebagai seorang wanita dan ibu dari anaknya. 

"Saya harus memilah waktu. Sebelum beranjak ke kantor, waktu yang ada di rumah bisa benar-benar memaksimalkan waktu untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang istri dan juga ibu. Lalu ketika saya keluar rumah, tentunya lebih fokus kepada tugas dan tanggungjawab. Jadi saya berusaha memilah antara tugas dan tanggungjawab dengan masalah keluarga, " tegasnya.

Sebagai seorang ibu dari anak laki-laki yang mulai beranjak dewasa, dia menerapkan pendidikan ke anaknya untuk bersikap dewasa dan mandiri. Dengan penerapan tersebut, sang anak tidak terlalu tergantung dan manja berlebihan kepada ibunya. Sementara itu, di pihak suamipun Salomina mendapat dukungan penuh melaksanakan tugasnya sebagai anggota Kowad. Intinya, diantara pasangan tersebut ada saling pengertian akan kerja dan tugas masing-masing. 

"Prinsip saya dalam menjalani tugas adalah dengan sungguh-sungguh menjalankan, sesuai dengan perintah yang diterima dari pimpinan. Ke depannya, apapun penilaian dari atasan, dan jika masih diberi kesempatan dan pantas mungkin bisa ditingkatkan sebagai komandan. Itu memang kembali kepada pimpinan. Bagi saya yang terpenting adalah melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. sehingga itu yang melatarbelakangi penilaian yang diberikan oleh pimpinan, " ujarnya ketika ditanyakan harapan dan keinginannya kedepan dan sekaligus mengakhiri wawancara.