Sinar matahari di atas Kota Medan, Sumatera Utara, siang itu demikian menyengat, membuat M Nuh berkali-kali menyeka keringat di wajahnya. Handuk tangan yang digantungkan di depan kemudi bentor (becak motor) miliknya tampak basah oleh peluh namun lelaki paruh baya itu tidak mengeluh.

Setiap hari selepas azan Subuh hingga tengah malam pria paruh baya ini mencari nafkah, dengan cara mengantarkan penumpang yang menyewa kendaraan khas ibu kota Sumatera Utara itu.

Pria yang dulu berprofesi sebagai kolektor (pengumpul tagihan) tersebut mengaku harus berupaya lebih keras untuk mencari nafkah sebagai penarik bentor. Betapa tidak, gempuran angkutan berbasis daring semakin hari makin tidak dapat dibendung.

"Sekarang lebih susah cari penumpang, karena sudah banyak angkutan online (daring)," ungkapnya saat ditemui di pangkalan bentor Stasiun Medan, Jalan Kereta Api, Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (5/4/2018) siang.

Ketika ditanya mengenai jumlah pendapatannya setiap hari, lelaki berperawakan gempal tersebut tidak dengan gamblang menyebutkan angka. Hanya saja, sejak ada angkutan daring kini dia hanya mampu menarik penumpang sekitar 10–15 kali. Padahal sebelumnya bisa lebih dari itu.

Dalam sekali jalan dengan jarak sekitar 2,2 kilometer (km) M Nuh mematok tarif sekitar Rp15 ribu. Itupun dengan catatan terjadi kepadatan lalu lintas di perjalanan. Kalau lalu lintas lancar-lancar saja tarifnya bisa kurang dari itu.

"Enggak tentu juga bisa dapat penumpang, kadang 10 kali atau 15 kali. Bahkan sering juga kurang dari itu," ujar M Nuh sambil memanaskan mesin bentor yang terdengar menderu.

Meskipun sudah banyak angkutan berbasis daring, pada umumnya penarik bentor yang mencapai 26 ribu di Kota Medan tidak gentar menghadapi persaingan di era modern seperti sekarang ini.

Penarik bentor lainnya John Nasution pun sadar akan ketatnya persaingan. Namun dia percaya bahwa masih banyak orang yang masih mau menggunakan tunggangan yang mengkombinasikan antara becak dan sepeda motor tersebut.

"Masing-masing sudah ada rejekinya, saya meyakini itu," kata John dengan nada penuh kearifan.
 
Memberi pelayanan prima, jadi salah satu cara yang dilakukannya agar tetap diminati. John juga memanfaatkan banyaknya wisatawan yang datang ke Kota Medan dengan menerapkan pelayanan tersebut.

Dengan cara begitulah wisatawan akan puas dan tidak kapok untuk terus datang ke kota ini. Lagi pula bentor merupakan angkutan umum yang tidak di semua daerah ada.

"Ke pendatang harus sopan, baik, dan murah senyum. Jangan menetapkan tarif yang seenaknya, agar mereka tidak kapok," tuturnya.

Baik John maupun Nuh menjaga betul sikap tersebut. Namun, mereka tak memungkiri ada saja rekannya yang bersikap kurang baik kepada wisatawan. Akibatnya mereka terkadang terkena getahnya.

Itu sebabnya mereka mengimbau agar dalam mencari nafkah jangan sampai merugikan konsumen. Terlebih di tengah persaingan keras seperti saat ini. Jangan karena nila setitik rusak susu sebelanga.

Penulis: Fauzan Genkidama (Peserta Bimbingan Teknis Pembuatan Konten untuk Peningkatan Kompetensi Jurnalis Media Center Daerah)
Editor: Elvira Inda Sari