Bonebol, InfoPublik - Asisten III Bidang Administrasi Setda Kabupaten Bone Bolango Syarifudin Uloli  mengatakan, bahasa daerah dan cagar budaya memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat sejak dahulu kala. Bahasa adalah sebuah bentuk komunikasi verbal baik digunakan oleh orang per orang maupun kelompok atau sebaliknya.
 
Sedangkan cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa sebagai wujud pemikiran dan perilaku kehidupan manusia yang perlu dilestarikan dan dikelola secara tepat melalui upaya perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan dalam rangka memajukan kebudayaan nasional untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Hal ini disampaikan Asisten III Bidang Administrasi Setda Kabupaten Bone Bolango Syarifudin Uloli pada seminar bahasa Bulango dan Bahasa Suwawa (Bonda) serta sosialisasi cagar budaya dan benda purbakala, yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bonebol, di Grha Ibu Kota Gorontalo, Rabu (4/4).

Dikatakan bahasa adalah sebuah manifestasi budaya. Sebagaiman judul tema seminar, ada pesan-pesan yang hendak disampaikan dan bisa kita maknai bersama bahwasanya ada sesuatu yang sangat urgen untuk dituntaskan. Terlebih tantangan yang dihadapi kedepan tentunya demikian pula dengan kompleks lebih persoalan yang terjadi dengan kondisi bahasa daerah kita. 

Seperti contoh, bahasa Bulango. Bahasa yang dulunya digunakan oleh masyarakat Tapa-Bulango sebagai bahasa para leluhur. Sejak beberapa abad lalu, bahasa tersebut telah berpindah tempat ke wilayah Bolaang Mongomondow Selatan, Sulawesi Utara. Bahkan sekarang ini saja sudah sangat jarang digunakan oleh masyarakat Tapa-Bulango.

“Sekalipun kita ketahui jumlahnya penuturnya sangat sedikit, tapi ternyata masih digunakan oleh keluarga besar Bupati Bone Bolango Hamim Pou,”ujar Syarifudin.

Dia melanjutkan, demikian juga dengan kondisi cagar budaya yang dimiliki daerah ini, sudah tentu menjadi tanggungjawab kita bersama untuk menjaga, melindungi dan ini sesuai dengan semangat dan roh UU Nomor 11 tahun 2010, peran serta masyarakat ikut menjaga melindungi dalam dan melestarikan seluruh benda cagar budaya. 

Oleh karena itu, melalui momentum semacam ini, Syarifudin berharap kepada peserta seminar untuk ikut ambil bagian di dalamnya.”Ancaman terbesar sekarang ini adalah globalisasi. Pesatnya perkembangan tehnologi informasi setidaknya memberikan efek buruk terhadap generasi muda sekarang ini,”kata mantan Kepala BKPPD Bonebol ini.

Menurutnya, tidak sedikit diantaranya yang sudah tidak lagi menggunakan bahasa daerah, selain tidak memahami bahasa daerah, ada pula yang malu-malu menggunakan bahasanya sendiri. Padahal itu adalah bahasa nenek moyangnya, nenek moyang kita.

Sudah tentunya, kami semua merasa prihatin dengan kondisi yang terjadi sekarang ini. Karena itu, Syarifudin patut mengimbau kepada seluruh elemen masyarakat untuk menggiatkan bahasa daerah dalam lebih semua aspek kehidupan bermasyarakat.

Mari kita tunjukan siapa kita dan identitas kita sebenarnya tanpa harus malu menggunakan kalau orang Suwawa sudah bahasa kita. Harusnya menggunakan bahasa Suwawa atau bahasa Bonda. 

Demikian pula dengan orang Tapa-Bulango sudah saatnya menggunakan bahasa Bulango.Paling tidak kita memiliki keberanian untuk belajar seperti bahasa nenek moyang kita.

Bukan tidak mungkin bahasa yang digunakan sekarang akan punah. Demikian dengan bahasa Bulango yang seakan tinggal menjadi sejarah sejarah masyarakat Tapa-Bulango. 

Bahkan bukan tidak mungkin bahasa kita termasuk bahasa Gorontalo dalam beberapa dekade mendatang hanya akan menjadi bagian sejarah, jika seandainya generasi muda dan generasi mendatang enggan untuk menggunakan bahasanya sendiri.

Olehnya itu, dia berharap melalui seminar itu bisa menjadi titik balik mengembalikan roh bahasa daerah kewujud aslinya. Bahasa Bulango dan bahasa Suwawa adalah bahasa kita.”Silahkan orang Suwawa menggunakan bahasa Suwawa, orang Tapa-Bulango menggunakan bahasa Bulango dan lainnya menggunakan bahasa Gorontalo,”kata Syarifudin.

Demikian pula dengan cagar budaya dan benda purbakala yang ada, perlu kita lindungi dan kita lestarikan bersama. Kenapa? Sebab, ini bukan hanya menjadi tugas pemerintah daerah, tapi menjadi tugas kita semua, baik itu pemerintah dan seluruh elemen masyarakat yang ada.
 
Di Bonebol cukup banyak terdapat situs bersejarah, mulai makam kuno sampai dengan megalitik manusia Purba, sehingga tidak ada alasan selain untuk melindungi dan menjaganya. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan diharapkan untuk melakukan invetarisasi terhadap seluruh kekayaan cagar budaya dan budaya tak benda di seluruh Kabupaten Bonebol.
“Pemerintah daerah akan terus mendorong dan berupaya serta memastikan seluruh situs cagar budaya senantiasa terjaga kelestarian dan pemanfaatannya itu untuk kepentingan ilmiah, pendidikan dan sebagai museum arkelog sesuai dengan UU Nomor 11 tahun 2010 tentang cagar budaya,”ulas Syarifudin. (MC Bone Bolango/Hms/Kadir/toeb)