Menegakkan kedaulatan negara, itulah yang terlintas saat ditanya apa tugas tentara. Namun, yang dilakukan oleh Sersan Dua (Serda) Gunharlian sedikit berbeda. Bintara Pembina Desa (Babinsa) ini angkat cangkul untuk menggarap sawah. Tujuan mulianya adalah membantu mewujudkan ketahanan dan mencapai swaswembada pangan.

Pemandangan berbeda tertangkap mata saat berkunjung ke areal persawahan milik Dinas Pertanian Kota Bengkulu yang ada di Kelurahan Semarang Kota Bengkulu. Di areal seluas tujuh hektar itu, tampak seseorang berseragam lengkap Tentara Nasional Indonesia (TNI) sedang menyabit padi yang menguning. 

"Saya memang menggarap sawah ini," ucap tentara bernama Gunharlian tersebut, saat ditemui di sawah garapannya, Rabu (28/3/2018). 

Tiga tahun sudah, Gunharlian yang berpangkat Serda itu menggarap sawah. Bak seorang petani ulung, ia menanam padi, membajak, hingga memanen oryza sativa yang sudah merunduk. “TNI punya program upaya khusus swasembada pangan. Jadi memang ada instruksi dari komandan agar kami membantu para petani,” ungkapnya.

Pria berusia 47 tahun itu mengaku, dari satu hektar lahan yang digarapnya akan menghasilkan gabah 8-9 ton setiap panen, dan setahun bisa dua kali panen. Dari hasil panen, ia mendapat dua per tiga bagian sedangkan sepertiganya menjadi milik Dinas Pertanian.

Meskipun begitu tujuan utama ayah tiga anak itu bukanlah untuk mencari nafkah. Sebagai Babinsa, dirinya memang diwajibkan untuk mengetahui kondisi masyarakat secara langsung. “Terjun langsung ke lumpur, bisa merasakan langsung 'nikmatnya' bermasyarakat,” ujar pria yang dipanggil Gun itu.

Sejak menjadi Babinsa pada tahun 2008, Serda Gunharlian mengaku banyak waktu yang bisa diluangkannya untuk berbaur dengan masyarakat. Sebagai seorang TNI, Gun yang tinggal di Jalan Amalia Kelurahan Dusun Besar ini memang ditugaskan untuk memberi teladan kepada masyarakat.  "Harapan saya bila ada lahan tidur, masyarakat bisa menggarapnya," ungkap Gun. 

Menjadi Motivasi

Iin (50 tahun), seorang petani yang juga menggarap sawah di sana mengatakan aksi Gun yang cukup memberikan motivasi bagi para petani yang ada di sana. 

“Kami termotivasi dengan Pak Gunharlian ini. Walaupun dia TNI, tapi tidak malu untuk bertani,” ucapnya.

Diceritakan Iin, Gunharlian ulet dalam bercocok tanam. Bahkan, terkadang lebih rajin dari dirinya yang berprofesi sebagai petani.

“Pak Gunharlian ini setiap pekan selalu ke sawah. Sembari melihat tanamannya, ia juga sering bercengkrama dengan warga yang ada di sini,” ungkap Ibung, panggilan akrabnya.

Tak jarang pula, kata Iin, para petani yang ada di sana dibantu oleh Gunharlian. Misalnya, para petani dibantu saat merontokkan bulir padi dari batangnya. “Kehadiran Pak Gun menjadi semangat bagi kami,” pungkas Iin.

Keluarga petani

Kecintaan Gunharlian pada kegiatan menggarap sawah didasari keluarganya yang petani. Oleh karena itu, ketika Dinas Pertanian menawarkan kesempatan menggarap sawah, pria kelahiran Seginim Bengkulu Selatan menyambutnya dengan bersemangat.

"Sejak kecil saya memang hidup di desa yang mayoritas hidup dengan cara bertani," ungkap pria kelahiran 8 Juli 1971 itu. 

Pun demikian, Gunharlian bukan tak pernah berperang. Pria berdarah Padang ini kaya pengalaman bertugas untuk mengamankan daerah konflik. Awal menjadi TNI tahun 1992, ia ditugaskan di Kompi Lubuk Linggau Sumatera Selatan. Tiga tahun berselang, ia dikirim ke Timor Timur. Kemudian tercatat kota lainnya seperti Ambon, Aceh, dan Bengkulu pernah menjadi barak tugasnya.

Pewarta: Tedi Cahyono (Media Center Kota Bengkulu)
Editor: Nugroho Tri Putra/Elvira Inda Sari