Jakarta, InfoPublik - Dirjen Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan Agus Santoso menyatakan, setelah dikebut pembangunannya di tahun tahun terakhir, saat ini Bandar Udara Morowali di Sulawesi Tengah sudah siap digunakan dan menunggu diresmikan.

"Saat ini fasilitas penerbangan baik dari sisi darat dan udara sudah terpasang dengan baik. Bahkan beberapa maskapai sudah melakukan operasional penerbangan di bandara ini," kata Dirjen Agus, Rabu (14/3).

Bandara Morowali mulai dibangun pada 2007 dengan dana APBD oleh inisiatif Pemerintah Daerah Kabupaten Morowali, setelah sempat terhenti. Selanjutnya pada 2010 dilakukan pembangunan fisik bandara, baik sisi udara seperti landasan pacu, taxiway dan apron, serta sisi darat seperti terminal penumpang dan gedung perkantoran. 

Pembangunan fisik tersebut dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub dengan dana APBN. Hingga 2017, dana APBD yang sudah digunakan sebesar Rp21 miliar, sedangkan dana APBN yang digunakan sebesar Rp345,591 miliar.

"Saat ini ada 28 personil sumber daya manusia di bandara yang sebagian berasal dari masyarakat sekitar. Hal ini sangat bagus, sesuai dengan kebijakan pemerintahan Presiden Joko Widodo agar semua proyek infrastruktur juga bisa mendayagunakan masyarakat sekitar. Dengan demikian juga ada rasa memiliki dari masyarakat terhadap kehadiran bandara ini," kata Agus.

Menurut Sekretaris Daerah Kabupaten Morowali Jafar Hamid, transportasi udara yang cepat diperlukan oleh masyarakat Morowali untuk menuju kota-kota besar terdekat mengingat jarak yang sangat jauh.

"Jarak Morowali ke Palu sekitar 520 km dan biasa ditempuh 11-12 jam naik mobil. Sedangkan jarak ke Poso dan Kendari lebih dari 300 km yang bisa ditempuh 7-8 jam naik mobil. Kalau naik pesawat waktunya hanya 30 menit sampai 1 jam perjalanan. Jadi masyarakat di sini sangat antusias kalau ada penerbangan," ungkap Jafar.

Menurut Jafar, hal tersebut dibuktikan saat ada penerbangan carter Transnusa pada akhir 2017 lalu, dengan menggunakan pesawat ATR 42. Masyarakat harus memesan tiket seminggu sebelumnya mengingat kapasitas pesawat yang cuma 42 kursi tetapi permintaan masyarakat membludak.

Pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Morowali, menurut Jafar sudah mempersiapkan segala fasilitas pendukung jika Bandara Morowali diresmikan dan beroperasi secara komersial. Di antaranya dengan mempersiapkan angkutan darat lanjutan dari bandara menuju kota Morowali yang jaraknya sekitar 50 km. 

Selain itu, juga sudah melakukan pembebasan lahan untuk pengembangan bandara, di antaranya pembebasan lahan untuk landasan pacu sehingga bisa diperpanjang mencapai 2.200 meter.  

Saat ini Bandara Morowali berada di lahan seluas 158 hektar. Bandara ini mempunyai panjang landasan pacu berukuran 1.050 m x 30 m, apron 80 m x 70 m, dan taxiway 192 m x 18 m. Bandara juga memiliki gedung terminal seluas 1000m2, dengan kapasitas pelayanan untuk 100 orang. 

Di dalam gedung terminal juga terdapat fasilitas dua gerbang X-ray, dua unit conveyor belt (band berjalan) untuk bagasi penumpang keberangkatan dan kedatangan, serta dua unit konter check-in. Selain itu, bandara juga dilengkapi beberapa gedung lain seperti gedung perkantoran dan gedung fasilitas Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK).

Menurut Kepala Satuan Kerja Bandara Morowali Iskandar, saat ini tengah dilakukan perpanjangan runway sepanjang 450 meter yang diharapkan bisa selesai pada Maret – April tahun ini. 

"Dengan demikian panjang runway nantinya menjadi 1.500 meter dan bisa melayani penerbangan pesawat yang lebih besar yaitu ATR 72. Saat ini sudah ada dua maskapai yang berminat membuka penerbangan ke sini dengan menggunakan pesawat tersebut, yaitu Garuda Indonesia dan Wings Air," ujarnya.