Jakarta, InfoPublik - Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir Nasir mengutarakan Permenristekdikti Nomor 65 Tahun 2016 tentang Gelar Doktor Kehormatan, perguruan tinggi dapat memberikan gelar kehormatan kepada seseorang yang telah berkontribusi nyata terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan humaniora.

"Pemberian Gelar Honoris Causa kepada seseorang dilakukan secara kelembagaan, kemudian disampaikan melalui Kementerian. Selanjutnya Kementerian akan mengkaji apakah pemberian gelar tersebut layak atau tidak," kata Menristekdikti saat menghadiri Sidang Senat Terbuka Universitas Airlangga (Unair) dalam Pengukuhan Gelar Honoris Causa kepada Dato' Sri Prof. Dr. (H.C) Tahir di kampus Unair, Surabaya (8/3).

Ia mengatakan pemberian gelar berdasarkan kemampuan Tahir dalam bidang ilmu pengetahuan khususnya di bidang ekonomi makro dan mikro serta kontribusinya membangun negeri dan kesejahteraan masyarakat khususnya di bidang kesehatan dan pendidikan.

Ia pun mengapresiasi penghargaan yang diberikan kepada Tahir tersebut. Unair memberikan gelar Doktor Honoris Causa kepada Tahir di bidang kebijakan publik dan ekonomi. Pemberian gelar tersebut dilakukan setelah melalui proses yang cukup panjang dan beberapa pertimbangan.

Rektor Unair Mohammad Nasih menyebutkan Tahir memiliki pengalaman dan pengetahuan mengenai ekonomi mikro dan makro Indonesia. Selain itu, dirinya juga berperan aktif mewakili pemerintah RI dalam misi meningkatan kerjasama, bisnis dan bidang lainnya.

Tahir pun telah menerima banyak penghargaan dari dalam dan luar negeri sejak tahun 2009 sampai saat ini. "Dari pertimbangan-pertimbangan tersebut maka dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis mengajukan ke rektor. Kemudian rektor mengajukan ke Menristekdikti dan disetujui tanggal 5 Februari 2018," kata Nasih.

Tahir dikenal sebagai seorang pengusaha perbankan, investor dan pendiri organisasi filantoropi Tahir Foundation. Pria kelahiran Surabaya ini sebelumnya juga telah mengantongi gelar doktor HC dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Dalam sidang senat terbuka ia memberikan orasi ilmiah berjudul "Menjadikan Ekonomi Indonesia Berdaya Saing Global dengan Mengelola Sumber Daya Secara Berkeadilan : Perspektif Resource Based Theory".

Dalam orasi ilmiahnya Tahir menjelaskan bahwa Indonesia harus memiliki rasa competitiveness dan dapat mengolah sumber daya secara berkeadilan. "Sumber daya dapat dijadikan aset perusahaan yang dapat digunakan sebagai strategi usaha dan menjadi keunggulan dalam persaingan" jelasnya.

Hadir dalam acara tersebut Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Sosial Idrus Marham, Menteri Ketenagakerjaan Muhammad Hanif Dhakiri, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Dirjen Sumber Daya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kemenristekdikti Ali Ghufron Mukti, Walikota Surabaya, Walikota Bandung Ridwan Kamil, serta tamu undangan lain.