Jakarta, InfoPublik - Indonesia dan The Global Fund memperkuat kemitraan dengan meluncurkan dana hibah baru yang bergerak untuk mengakhiri epidemi HIV, Tuberkulosis, dan Malaria untuk periode 2018 – 2020.

Peluncuran hibah dilaksanakan Senin (12/2) di Kementerian Kesehatan yang dihadiri oleh Perwakilan Pemerintah, Mitra Pembangunan, Komunitas dan Pemangku Kepentingan.

Investasi baru tersebut akan mendukung upaya untuk meningkatkan program penanggulangan HIV dalam mencapai target cakupan Anti-Retroviral Therapy (ART) 40 persen, retensi ART 12 bulan 90 persen dengan mendorong lebih dari 258.340 orang dalam perawatan ART pada tahun 2020, dan memperluas layanan HIV, termasuk akses terhadap pencegahan dan pengobatan untuk populasi kunci.

Hibah baru tersebut juga bertujuan untuk memperkuat manajemen rantai pasokan, meningkatkan deteksi kasus TB menjadi 240 per 100.000 tingkat pemberitahuan kasus, keberhasilan pengobatan 90 persen, dan keberhasilan pengobatan MDR 65-75 persen. Dengan dukungan dari Global Fund, investasi baru ini ditujukan untuk menurunkan Insiden Parasit tahunan (API) menjadi 0,53 kasus positif per 1.000 dan meningkatkan penggunaan dan kepemilikan kelambu LLIN menjadi 85 persen.

Kemitraan Indonesia dengan Global Fund telah mencapai hasil yang signifikan dalam meningkatkan ketersediaan pengobatan HIV, TBC dan Malaria. Sekitar 90.191 orang yang hidup dengan HIV di negara ini menjalani terapi ART pada 2017 dan 1.422 ibu hamil yang HIV-positif menerima perawatan untuk mencegah penularan virus ke anak mereka yang belum lahir. Kemitraan ini juga telah menemukan 401.130 kasus TBc dan 2.999 orang menjalani pengobatan TB MDR. Selain itu, dalam penanggulangan malaria, Pemerintah Indonesia telah mendistribusikan 3.984.224 kelambu untuk melindungi lebih dari 31% populasi berisiko malaria.

Dana hibah tersebut senilai total USD264.225.834 untuk periode pelaksanaan 2018-2020, akan menyediakan ART bagi 258.340 odha, 6900 pasien TB MDR diobati dan 3.577.750 kelambu LLIN terdistribusi bagi populasi berisiko malaria. Hibah tersebut akan dikelola oleh Sub-Direktorat Rehabilitasi HIV & AIDS, Tuberkulosis dan Malaria – Kementerian Kesehatan, Yayasan Spiritia, Yayasan Aisyiyah, dan Yayasan Perdhaki.

“Hibah yang diluncurkan adalah hasil dari proses panjang dalam penyusunan proposal yang didukung oleh mitra kami dan hasil pembelajaran dari pelaksanaan periode sebelumnya,” kata Dr Donald Pardede, Ketua Country Coordinating Mechanism Indonesia.

Sementara itu Menteri Kesehatan RI Nila F Moeloek mengucapkan terima kasih kepada Global Fund dan mitra pendanaan mereka atas dukungan berkelanjutan untuk Indonesia. "Kami akan terus bekerja keras dan memastikan bahwa sumber daya yang dimobilisasi melalui hibah ini digunakan secara akuntabel dan efektif," kata Menkes.

Kepala Pengelolaan Hibah Global Fund Mark Edington mengucapkan selamat kepada Indonesia karena menjadi contoh yang luar biasa dalam menanggapi HIV, TBC dan Malaria dan memobilisasi sumber daya dalam negeri. "Indonesia memiliki alokasi USD247 miliar dengan 20 persen merupakan kontribusi pembiayaan dalam negeri yang dipersyaratkan. Jika semua negara dapat mengikuti contoh bagus ini, kita dapat mengakhiri HIV, TBC dan malaria sebagai epidemi pada tahun 2030," ungkapnya. (Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes)