Blora, InfoPublik - Meski sebagian besar penduduk Desa Sumurboto, Kecamatan Jepon, Kab. Blora, Jawa Tengah berprofesi sebagai petani, namun membuat  kerajinan anyaman bambu sangat melekat khususnya bagi para wanita desa setempat.  

Kerajinan anyaman bambu seperti membuat bakul (dunak) dan anting (wadah tempat makanan) yang telah digeluti menjadi sisi lain kehidupan para warga Desa Sumurboto untuk menambah penghasilan keluarga. Selain itu, membuat  anyaman bambu sudah menjadi tradisi turun-temurun.

Meski ada yang mengakui keterbatasan permodalan. Tetapi bukan menjadi penghalang saat mengisi waktu luang untuk memenuhi pesanan. Telaten dan semangat disertai ketrampilan khusus saat menganyam, merupakan modal utama agar hasilnya bisa maksimal, bertahan dan dikenal oleh masyarakat luas.

Misalnya, untuk menyelesaikan satu buah dunak berukuran besar diperlukan waktu lebih kurang dua hari. Jika mendapat banyak pesanan, mereka mengerjakan bersama-sama kerabat dan keluarga lainnya.

Kepala Desa Sumurboto, Suprapti, A.Ma,Pd, mengungkapkan, warga di wilayahnya sangat berpotensi untuk membuat anyaman bambu. Hanya saja dinilai sulit untuk maju karena beberapa faktor.

“Sangat bepotensi, tapi masih belum bisa maju, penyebabnya para perajin masih individual, artinya masih dilakukan pada perorangan tiap rumah, belum terbentuk kelompok penganyam. Tetapi meraka juga saling berinteraksi jika ada pesanan dalam jumlah banyak,” ungkapnya.

Faktor lainnya adalah pekerjaan menganyam dilakukan bukan sebagai mata pencaharian pokok, melainkan sebagai penopang waktu luang ketika mereka sedang tidak menggarap sawah.

Kemudian, para pelaku penganyam bambu, rata-rata sudah berusia tua. Sedangkan yang muda dinilai kurang minat untuk belajar menganyam bambu.

“Berbagai upaya sudah kami lakukan bersama pihak terkait. Harapannya, desa kami sebagai salah satu sentra kerajian anyaman bambu makin bisa menjadi ikon tersendiri untuk Blora. Kami masih menyesuaikan anggaran untuk pembuatan seperti gapura identitas Desa Sumurboto sentra industri anyaman bambu, ” tandasnya.

Lebih lanjut dikatakan, untuk memotivasi  agar kerajinan anyaman bambu diminati oleh anak-anak, pihaknya merencanakan pelatihan ketrampilan khusus kepada siswa SD di wilayah setempat.  

Hastati, salah seorang TA-TTG Kemendes PDTT yang bertugas di Blora mengemukakan sudah saatnya membumikan wilayah Desa Sumurboto sebagai sentra perajin anyaman bambu sehingga perlu dibentuk kelompok dengan kepengurusan yang solid dan produk kerajinan anyaman bambu yang  bervariatif.    

“Misalnya membuat anyaman wadah buah dengan ciri khusus dengan diberi warna sehingga lebih menarik dan kreatif. Artinya, memang perlu ada pelatihan,” ucapnya.   

Selain pemasaran konvensional, kata dia, bisa dilakukan melalui cara online. Hanya saja, para perajin harus punya siap stok jadi.

“Artinya tidak melulu melayani pemesan dengan waktu tertentu saja,” jelasnya.

Agar makin menarik publik, perlu dibuat identitas yang jelas, sehingga para pengunjung yang datang bisa merasa lebih paham.

“Perlu ada semacam gapura sebagai identitas sentra anyaman bambu. Bila perlu dibuatkan ruang  publik untuk membuat dokumentasi bagi para pengunjung dengan konsep pengembangan wisata berbasis industri. Sebab wilayah setempat  sangat berpotensi,” ucapnya.    

Produk kerajinan, menurut dia, bisa diberi label nama yang menunjukkan hasil karya perajin setempat.

“Bisa melibatkan para pemuda desa,” ujarnya.  

Salah seorang perajin anyaman bambu adalah Ratinah (50). Dia mengerjakan pembuatan dunak, anting dan wakul bambu sejak masih remaja. Namun sempat terhenti karena merantau. Ia mengaku mendapatkan tambahan penghasilan dari menganyam.

“Hasil kerajinan dibeli warga yang mau punya hajat, biasanya dalam jumlah banyak. Selain itu dibeli oleh pedagang pasar. Tak jarang dari luar kabupaten, seperti Rembang dan Pati juga datang untuk memesan,” kata Ratinah.

Bahan baku bambu, dibelinya dari para penjual bambu tali (bambu apus) yang datang dari luar Desa Sumurboto. Biasanya para penjual bambu yang berada di luar daerah sudah terbiasa memiliki pelanggan bagi para perajin anyaman bambu.

“Tidak mengalami kesulitan bahan baku, meski warga Sumurboto hampir tidak menanam bambu apus untuk bahan anyaman, tetapi banyak penjual keliling yang datang dan memiliki langganan,” ujarnya.

Ratinah adalah salah satu dari sekian wanita perajin anyaman bambu wilayah Desa Sumurboto. “Kalau bulan Suro, pesanan mulai menurun,berbeda saat bulan Besar lalu, banyak warga yang punya hajat seperti mantu, khitan atau lainnya,” ungkapnya.

Harga per buah hasil kerajinan sangat bervariatif menurut ukuran. Harga bisa sewaktu-wakatu naik jika bahan baku mulai terlambat dan mengalami kenaikan. Misalnya, satu buah wakul bambu (bakul) kecil dijualnya dengan harga Rp5 ribu, kemudian untuk dhunak dijual seharga Rp20 ribu per buah, sedangkan anting, dipatok harga Rp5 ribu hingga Rp10 ribu. (MC Kab. Blora/Teguh/Elvira).