Jakarta, InfoPublik - Sejak 2016 Kementerian Kesehatan memiliki struktur organisasi yang secara spesifik mengurusi kanker di Indonesia. Tentu saja dengan dukungan dari berbagai profesi, lembaga swadaya masyarakat, dan seluruh masyarakat yang ada.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Mohamad Subuh mengatakan pada dasarnya, manusia tidak bisa bekerja secara sendiri-sendiri. Ada tiga hal prinsip yang dilakukan yaitu to detect (deteksi), to prevent (pencegahan), dan to respons (respon).

Yang pertama, bagaimana melakukan deteksi? dan bagaimana setelahnya? Yaitu dengan melakukan diagnosis. Deteksi bisa dilakukan secara dini maka akan memudahkan langkah-langkah diagnosis yang ada. Permasalahan di Indonesia mengenai kanker adalah terlambatnya diagnosis.

Kedua adalah bagaimana cara melakukan pencegahan? Dalam pencegahan ada tiga faktor yang harus diperhatikan, yaitu:

1. Pengetahuan. Jika tidak diberikan secara luas, masyarakat tidak mengerti dengan baik, maka akan sangat sulit melakukan upaya pencegahan.

2. Harus melakukan perubahan gaya hidup. Ini adalah faktor risiko untuk melakukan suatu upaya pencegahan dengan baik.

3. Awareness sangat penting. Bukan hanya kepedulian individu, masyarakat, pemerintah terutama pemerintah daerah, tapi juga kepedulian seluruh lembaga swadaya masyarakat dari kanker.

“Jika satu link tidak peduli, maka kita belum bisa melaksanakan upaya pencegahan,” kata dr. Subuh.

Kemudian prinsip yang ketiga adalah merespon. Respon bukan hanya melakukan pengobatan tapi juga respon memberikan laporan, respon dalam menyediakan fasilitas sarana, dan juga melakukan komunikasi adalah suatu respon. dr. Subuh mengatakan ketiga hal ini sebenarnya bisa dilakukan dalam upaya pendeteksi dini suatu penyakit.

Hari kanker sedunia diperingati setiap 4 Februari, dan pada tahun ini mengangkat tema We Can I Can yang bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan dan pengetahuan mengenai penyakit kanker.