Jakarta, InfoPublik - Pada penghujung 2017, penyakit Difteri kembali muncul dan menyebar di Indonesia. Pemerintah pun menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) terkait kondisi tersebut.

Difteri yang pertama ditemukan di tanah air pada 1920-an dan 1930-an itu, pada periode akhir tahun lalu juga menyerang sejumlah negara lain di dunia, yakni, Bangladesh dan Yaman. 

Eksistensi bakteri Corynebacterium Diphtheria di sejumlah negara di abad milenial yang diketahui menelan korban jiwa cukup mengejutkan Badan Kesehatan Dunia (WHO). Pasalnya, pihak WHO menilai, penyakit kuno itu sejatinya bisa dicegah dengan vaksin dan mudah ditangani. 

Seperti flu, kuman difteri menyebar lewat udara, terlebih saat ada orang yang sedang batuk atau bersin. Gejalanya meliputi sakit tenggorokan, demam rendah, dan kurang nafsu makan. 

Tanda-tanda ini diikuti timbulnya lapisan keabu-abuan pada hidung atau tenggorokan, dan pembengkakan tenggorokan yang disebut bullneck.

Sejatinya, sejak 1920-an, vaksin difteri sudah ditemukan. Vaksin itu membantu sistem kekebalan tubuh untuk mengenali toksin. Vaksin untuk difteri ada dalam vaksin DPT (Difteri, Pertusis, dan Tetanus). Di Indonesia sendiri vaksin ini diberikan sebanyak lima kali, yaitu saat bayi berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, 18 bulan, dan usia 4 sampai 6 tahun.

Diyakini, salah satu alasan dan faktor utama infeksi dapat muncul kembali adalah karena vaksinasi yang dilakukan saat masih bayi atau balita di bawah 80 persen.  Hal itu antara lain terjadi lantaran masih ada penolakan terhadap vaksinasi. Dimana, ada kecenderungan menyepelekan pentingnya vaksin lengkap untuk bayi.

Selain vaksin, faktor kekurangan gizi dan buruknya perawatan medis juga dapat memicu munculnya penyakit ini. Di Indonesia sendiri, penyakit difteri sesungguhnya sudah dinyatakan hilang sejak1990-an. Namun kemudian difteri muncul lagi. 

Merespons itu, Kemenkes pun menggelar imunisasi ulang atau Outbreak Response Immunization (ORI) di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Ketiga provinsi itu dipilih sebagai tempat pertama ORI karena jumlah prevalensi yang tinggi dan jumlah kepadatan masyarakat.

Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mengatakan meski sejak awal 2018 belum ada lagi laporan kasus difteri, Kemenkes akan tetap melakukan kegiatan imunisasi. Untuk memastikan imun tetap terjaga.

"Sampai kini vaksin difteri tersedia tidak ada alasan kita kekurangan, vaksin untuk imunisasi difteri aman digunakan. Diproduksi oleh Bio Farma, dan sudah digunakan di 136 negara, sebagian besar yang menggunakan vaksin Bio Farma adalah negara muslim," kata Menteri Nila saat Diskusi Media Forum Merdeka Barat 9 di Ruang Serbaguna Roeslan Abdulgani, Kemenkominfo Jakarta, Jumat (12/1).

Menkes kembali mengingatkan bahwa penyakit difteri sangat berbahaya sehingga sangat dianjurkan bagi yang belum untuk segera mendapatkan vaksinasi.

Per 9 Januari 2018, ORI mencatatkan capaian hingga 61,5 persen di 3 provinsi di 12 kabupaten/kota, dan temuan kasus difteri baru tampak mulai menurun sejak akhir 2017 sampai awal Januari 2018. Dari sebelumnya 10 sampai 20 kasus per hari, drop menjadi lima kasus per hari. Penurunan yang signifikan tersebut dimulai pada 22 Desember 2017 ketika masa liburan anak sekolah hingga awal Januari 2018.

Kemenkes menyebutkan pada  2017, jumlah kasus difteri sebanyak 954 kasus, dengan kematian sebanyak 44 kasus. Pada 1 - 9 Januari 2018 dilaporkan sebanyak 14 kasus dan tidak ada kasus meninggal.

ORI telah dilaksanakan di 170 kab/kota di 30 provinsi dan 85 kabupaten/kota tidak melaporkan ada kasus baru lagi di Desember 2017. Tahun 2017 dilakukan ORI di 12 kab/kota, dan ORI ini akan dilanjutkan ke 73 kab/kota pada 2018.