Jakarta, InfoPublik - Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis beberapa indikator strategis terkini, terkait perkembangan angka Inflasi, Indeks Harga Perdagangan Besar, Nilai Tukar Petani, Harga Produsen Gabah & Beras, Pariwisata & Transportasi Nasional, serta Kemiskinan dan Tingkat Ketimpangan Pengeluaran Penduduk Indonesia. Hal tersebut disampaikan, kepala BPS, Suhariyanto, dalam siaran persnya di BPS, Selasa (2/1).

Berikut ini disampaikan ringkasan data-data tersebut:

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI, DESEMBER 2017

1⃣  Pada Desember 2017 terjadi inflasi sebesar 0,71 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 131,28. Dari 82 kota IHK, seluruhnya mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Jayapura sebesar 2,28 persen dengan IHK sebesar 131,75 dan terendah terjadi di Sorong sebesar 0,18 persen dengan IHK sebesar 128,53.

2⃣   Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya seluruh indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok bahan makanan sebesar 2,26 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,30 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,17 persen; kelompok sandang sebesar 0,13 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,18 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olah raga sebesar 0,07 persen; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,75 persen. 

3⃣   Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Desember) 2017 dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Desember 2017 terhadap Desember 2016) masing-masing sebesar 3,61 persen. 

4⃣   Komponen inti pada Desember 2017 mengalami inflasi sebesar 0,13 persen. Tingkat inflasi komponen inti tahun kalender (Januari–Desember) 2017 dan tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (Desember 2017 terhadap Desember 2016) masing-masing sebesar 2,95 persen.

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA PERDAGANGAN BESAR, DESEMBER 2017

1⃣   Pada Desember 2017, Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas atau indeks harga grosir/agen naik sebesar 0,51 persen terhadap bulan sebelumnya. Kenaikan IHPB tertinggi terjadi pada Sektor Pertanian sebesar 1,25 persen. 

2⃣   Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Desember 2017 antara lain cabe merah, cabe rawit, ayam ras, daging ayam, beras, ikan beku, gandum-ganduman impor, serta bijih, kerak, dan abu logam ekspor.

3⃣   IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada Desember 2017 naik sebesar 0,34 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan oleh kenaikan harga komoditas tanah urug, aspal, bahan bangunan dari aluminium, batu bata, dan paku, mur, baut. 

4⃣   IHPB Umum naik 0,63 persen pada November 2017 terhadap bulan sebelumnya. Kelompok Barang Ekspor merupakan penyumbang andil dominan pada kenaikan IHPB, yaitu sebesar 0,35 persen. 

5⃣   IHPB Kelompok Barang Impor dan Kelompok Barang Ekspor pada November 2017 masing-masing naik sebesar 0,55 persen dan 1,76 persen terhadap bulan sebelumnya.

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI, DAN PERKEMBANGAN HARGA GABAH & BERAS  DI PENGGILINGAN, DESEMBER 2017

a. Perkembangan Nilai Tukar Petani, Desember 2017

1⃣   Nilai Tukar Petani (NTP) adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib). 

2⃣   NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani. 

3⃣  NTP nasional Desember 2017 sebesar 103,06 atau turun 0,01 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Penurunan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 0,76 persen lebih kecil dari kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,77 persen. 

4⃣   Pada Desember 2017, NTP Provinsi Kalimantan Barat mengalami kenaikan tertinggi (0,99 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Gorontalo mengalami penurunan terbesar (1,05 persen) dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya. 

5⃣   Pada Desember 2017 terjadi inflasi perdesaan di Indonesia sebesar 1,04 persen disebabkan oleh naiknya indeks di seluruh kelompok penyusun Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT), terutama Kelompok Bahan Makanan. 

6⃣   Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional Desember 2017 sebesar 112,40 atau naik 0,61 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya. 

b. Perkembangan Harga Gabah dan Beras di Penggilingan, Desember 2017

1⃣   Dari 1.473 transaksi penjualan gabah di 21 provinsi selama Desember 2017, tercatat transaksi gabah kering panen (GKP) 65,79 persen, gabah kualitas rendah 20,50 persen, dan gabah kering giling (GKG) 13,71 persen. 

2⃣   Selama Desember 2017, rata-rata harga GKP di tingkat petani Rp4.995,00 per kg atau naik 2,69 persen dan di tingkat penggilingan Rp5.081,00 per kg atau naik 2,62 persen dibandingkan harga gabah kualitas yang sama pada November 2017. Rata-rata harga GKG di petani Rp5.606,00 per kg atau naik 0,22 persen dan di tingkat penggilingan Rp5.689,00 per kg atau naik 0,01 persen. Harga gabah kualitas rendah di tingkat petani Rp4.534,00 per kg atau naik 0,88 persen dan di tingkat penggilingan Rp4.615,00 per kg atau naik 0,62 persen. 

3⃣   Dibandingkan Desember 2016, rata-rata harga pada Desember 2017 di tingkat petani untuk semua kualitas GKP, GKG, gabah kualitas rendah mengalami kenaikan masing-masing 8,05 persen, 3,09 persen, dan 8,78 persen. Demikian juga di tingkat penggilingan rata-rata harga untuk kualitas GKP, GKG, dan gabah kualitas rendah mengalami kenaikan masing-masing 7,72 persen, 2,49 persen, dan 8,33 persen. 

4⃣   Pada Desember 2017, rata-rata harga beras kualitas premium di penggilingan sebesar Rp9.860,00 per kg, naik sebesar 3,37 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Rata-rata harga beras kualitas medium di penggilingan sebesar Rp9.526,00 per kg, naik sebesar 2,66 persen. Sementara rata-rata harga beras kualitas rendah di penggilingan sebesar Rp9.309,00 per kg, naik sebesar 2,98 persen. 

5⃣   Dibandingkan dengan Desember 2016, rata-rata harga beras di penggilingan pada Desember 2017 semua kualitas mengalami kenaikan, untuk kualitas premium sebesar 5,54 persen, kualitas medium sebesar 5,04 persen, dan kualitas rendah sebesar 7,52 persen. 

6⃣   Selama Desember 2016–Desember 2017, Rata-rata harga tertinggi GKP di tingkat petani Rp4.995,00 terjadi pada bulan Desember 2017, sedangkan rata-rata harga terendah Rp4.308,00 terjadi pada April 2017. 

 7⃣   Rata-rata harga tertinggi untuk beras kualitas Medium selama Desember 2016–Desember 2017 Rp9.526,00 terjadi pada bulan Desember 2017, sedangkan rata-rata harga terendah Rp8.654,00 terjadi pada April 2017. 

PERKEMBANGAN PARIWISATA DAN TRANSPORTASI NASIONAL, NOVEMBER  2017

a. Perkembangan Pariwisata, November 2017

1⃣   Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman ke Indonesia November 2017 naik 5,86 persen dibanding jumlah kunjungan pada November 2016, yaitu dari 1,00 juta kunjungan menjadi 1,06 juta kunjungan. Sementara itu, jika dibandingkan dengan Oktober 2017, jumlah kunjungan wisman pada November 2017 mengalami penurunan sebesar 8,42 persen.

2⃣   Secara kumulatif (Januari–November) 2017, jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 12,68 juta kunjungan atau naik 21,84 persen dibandingkan dengan jumlah kunjungan wisman pada periode yang sama tahun sebelumnya yang berjumlah 10,41 juta kunjungan.

3⃣   Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang di Indonesia pada November 2017 mencapai rata-rata 57,88 persen atau naik 2,12 poin dibandingkan dengan TPK November 2016 yang tercatat sebesar 55,76 persen. Begitu pula, jika dibanding TPK Oktober 2017, TPK hotel klasifikasi bintang pada November 2017 mengalami kenaikan sebesar 0,95 poin.

4⃣   Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel klasifikasi bintang selama November 2017 tercatat sebesar 1,80 hari, terjadi kenaikan 0,08 poin jika dibandingkan keadaan November 2016.

b. Perkembangan Transportasi Nasional, November 2017

1⃣   Jumlah penumpang angkutan udara domestik yang diberangkatkan pada November 2017 sebanyak 7,5 juta orang atau turun 0,26 persen dibanding Oktober 2017. Jumlah penumpang tujuan luar negeri (internasional) turun 0,73 persen menjadi 1,3 juta orang. Selama Januari–November 2017 jumlah penumpang domestik mencapai 81,0 juta orang atau naik 11,51 persen dan jumlah penumpang internasional mencapai 15,2 juta orang atau naik 14,01 persen dibanding periode yang sama tahun 2016. 

2⃣   Jumlah penumpang angkutan laut dalam negeri yang diberangkatkan pada November 2017 tercatat 1,5 juta orang atau naik 0,66 persen dibanding Oktober 2017. Jumlah barang yang diangkut naik 2,92 persen menjadi 23,5 juta ton. Selama Januari–November 2017, jumlah penumpang mencapai 15,7 juta orang atau naik 15,51 persen dibanding dengan periode yang sama tahun 2016. Demikian juga dengan jumlah barang yang diangkut naik 1,43 persen atau mencapai 239,2 juta ton.

3⃣   Jumlah penumpang kereta api yang berangkat pada November 2017 sebanyak 34,4 juta orang atau turun 2,02 persen dibanding Oktober 2017. Serupa dengan jumlah penumpang, jumlah barang yang diangkut kereta api turun 4,59 persen menjadi 3,9 juta ton. Selama Januari–November 2017 jumlah penumpang mencapai 356,5 juta orang atau naik 11,51 persen dibanding periode yang sama tahun 2016. Hal yang sama untuk jumlah barang yang diangkut kereta api naik 23,51 persen menjadi 39,5 juta ton.

PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA, SEPTEMBER 2017

 1⃣   Pada bulan September 2017, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 26,58 juta orang (10,12 persen), berkurang sebesar 1,19 juta orang dibandingkan dengan kondisi Maret 2017 yang sebesar 27,77 juta orang (10,64 persen). 

2⃣   Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2017 sebesar 7,72 persen turun menjadi 7,26 persen pada September 2017. Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan pada Maret 2017 sebesar 13,93 persen turun menjadi 13,47 persen pada September 2017. 

3⃣   Selama periode Maret 2017–September 2017, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan turun sebanyak 401,28 ribu orang (dari 10,67 juta orang pada Maret 2017 menjadi 10,27 juta orang pada September 2017), sementara di daerah perdesaan turun sebanyak 786,95 ribu orang (dari 17,10 juta orang pada Maret 2017 menjadi 16,31 juta orang pada September 2017).

4⃣   Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan pada September 2017 tercatat sebesar 73,35 persen. Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan kondisi Maret 2017 yaitu sebesar 73,31 persen. 

5⃣   Jenis komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis Kemiskinan di perkotaan maupun di perdesaan adalah beras, rokok kretek filter, daging sapi, telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan, dan gula pasir. Sementara komoditi nonmakanan yang berpengaruh besar terhadap nilai Garis kemiskinan di perkotaan maupun perdesaan adalah perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi.

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK INDONESIA, SEPTEMBER 2017

Pada September 2017, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia yang diukur oleh Gini Ratio adalah sebesar 0,391. Angka ini menurun sebesar 0,002 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2017 yang sebesar 0,393. Sementara itu, jika dibandingkan dengan Gini Ratio September 2016 yang sebesar 0,394 turun sebesar 0,003 poin. 

2⃣   Gini Ratio di daerah perkotaan pada September 2017 tercatat sebesar 0,404, turun dibanding Gini Ratio Maret 2017 yang sebesar 0,407 dan Gini Ratio September 2016 yang sebesar 0,409. Sementara itu, Gini Ratio di daerah perdesaan pada September 2017 tercatat sebesar 0,320, sama jika dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2017, namun naik jika dibanding Gini Ratio September 2016 yang sebesar 0,316. 

3⃣  Pada September 2017, distribusi pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah adalah sebesar 17,22 persen. Artinya pengeluaran penduduk berada pada kategori tingkat ketimpangan rendah. Jika dirinci menurut wilayah, di daerah perkotaan angkanya tercatat sebesar 16,33 persen yang artinya berada pada kategori ketimpangan sedang. Sementara untuk daerah perdesaan, angkanya tercatat sebesar 20,25 persen, yang berarti masuk dalam kategori ketimpangan rendah. 

Untuk info detil dan unduh data silakan akses website BPS di www.bps.go.id

Salam,

Humas Badan Pusat Statistik (BPS)

 

Website      : www.bps.go.id  

Twitter        : @bps_statistics

Facebook   : badan pusat statistik 

Youtube      : BPS Statistics

Instagram  : bps_statistics