Jakarta, InfoPublik - Kementerian Kesehatan sudah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) di beberapa wilayah terkait wabah penyakit Difteri.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) M. Subuh menjelaskan, penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diptheriae ini telah dilaporkan oleh 95 Kabupaten/kota di Indonesia.

"Karena itu akan dilaksanakan respon cepat di tiga provinsi yakni Banten, DKI dan Jawa Barat," kata M Subuh saat memberikan keterangan kepada wartawan di Gedung Ditjen P2P Kemenkes Jakarta, Rabu (6/12).

Menurut dia, ketiga provinsi itu dianggap terdapat kasus yang paling tinggi dan kasusnya paling banyak perawatannya. "Walaupun Jawa Timur itu sudah paling banyak ya. Tapi Jawa Timur sudah melaksanakan duluan, (ORI) Outbreak Response Imunization," ujar dia.

Langkah yang dilakukan untuk mengatasi penyakit ini, lanjut Subuh, antara lain Kemenkes akan melakukan ORI yang artinya pemberian imunisasi ulang kepada daerah-daerah yang ada kasus yakni di 12 Kabupaten/Kota.

"Jadi bukan kecamatan kita ngomong. Itu ada Kabupaten Tangerang, Jakarta Barat, Jakarta Utara itu seluruh yang usia 1- 19 tahun kita lakukan ORI, yang tidak cukup dilakukan 1 kali saja. Jadi akan dilakukan sebanyak 3 kali," kata dia.

M Subuh menjelaskan, untuk imunisasi yang pertama akan dilakukan serempak pada 11 Desember. Dilanjutkan untuk yang kedua pada 11 Januari dan yang ketiga akan dilakukan 6 bulan kemudian yakni di 11 Juli 2018.

"Jadi yang dinamakan ORI ini karena sifatnya imunisasi harus mengikuti dasarnya. karena itu kita juga melakukannya sebanyak 3 kali. Jadi harus kita ikuti terus. Jangan yang sudah diberikan Desember tidak diberikan pada Januari. Jadi harus lengkap jika kita ingin benar," pinta dia.

Terkait dengan Difteri yang menjadi KLB, dia menjelaskan bahwa kasus ini terjadi dari Januari hingga November. "Jadi bukan November saja. Di mana yang paling banyak itu sebenernya bulan Februari dan Maret," jelas dia.

Menurut M Subuh, tingkat penularan penyakit ini sangat tinggi, di mana penularan bisa terjadi melalui percikan bersin, batuk. "Itu sangat menular," ungkapnya.

Untuk itu, dia berharap agar seluruh kepala daerah bisa melaksanakan ORI di wilayahnya masing-masing. Di mana dari 12 Kabupaten/Kota, ada tiga kepala dinas yang hadir dan siap untuk melaksanakan pada 11 Desember nanti.

"Kami pusat siapkan logistik, kemudian daerah siap operasional. Jangan merasa sulit mencari dana operasional karena ini merupakan kegiatan rutin. Seharusnya bisa terintegrasi dengan kegiatan-kegiatan untuk puskesmas. Toh puskesmas jalan terus hingga 31 Desember," ujarnya.