Jakarta, InfoPublik - Dalam data Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), ada sekitar 2.300 hotel berbintang di Indonesia (bintang satu sampai lima), yang mempunyai hampir 290.000 kamar. 

Sementara itu, menurut angka dari Badan Pusat Statistik (BPS) ada lebih dari 16.000 hotel non-bintang di Indonesia dan memiliki total kamar sekitar 285.000 jumlah kamar. Jumlah ini merupakan terbesar di Asia Tenggara.

"Kalau dilihat jumlah kamarnya, Indonesia ini yang terbesar di kawasan Asia Tenggara. Kita tidak ada lawannya di Asia Tenggara. Angka tadi itu belum termasuk dari jumlah kamar yang tersedia melalui konsep ekonomi berbagi (sharing economy)," ujar Ketua Umum PHRI Hariyadi B. Sukamdani dalam keterangan tertulis yang diterima InfoPublik di Jakarta, Selasa (14/11).

Namun, Hariyadi mengatakan para pemilik dan operator hotel saat ini harus bisa beradaptasi dengan tuntutan dari online travel agency, yang meminta komisi lebih tinggi dari travel agency konvensional. "Komisinya mereka itu cukup tinggi, antara 15-30 persen," ujarnya. 

Bukan hanya itu, tambah dia, masalah perpajakan terkait Online Travel Agency asing, terutama terkait Pajak Penghasilan Pasal 26 (Pph Pasal 26). 

"Problemnya OTA asing itu menyangkut pajak. Ini yang sedang di proses di dirjen pajak. Nah karena hotel tidak bisa narik, jadi mereka (Dirjen Pajak) meminta hotel yang membayarkan. Ini saya rasa semua hotel akan bereaksi keras karena ini kan jadi beban biaya tinggi. OTA asing ini meminta komisi antara 15-30 persen. Jadi dibayangkan saja," ujar Hariyadi. 

Hariyadi mengatakan PHRI kini sedang meminta kepada Direktorat Jenderal Pajak untuk meminta OTA asing membuat badan usaha tetap di Indonesia.