Jakarta, InfoPublik - Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayan (Kemendikbud) Danu menegaskan bahwa dokumentasi dalam bentuk film mempunyai dampak yang sangat luas ke seluruh dunia.

"Mengapa saya mengatakan hal tersebut karena kemarin saya baru pulang dari Mesir, untuk mengevaluasi kegiatan Bahasa Indonesia bagi penutur Asing. Di Mesir saya ke Universitas Al-Azhar Kairo dan Kanal West University," katanya saat membuka Diskusi Dokumenter Hasil Penelitian Bahasa dan Sastra di Gedung Badan Bahasa Kemendikbud Jakarta, Kamis (26/10).

Menurut Danu, dokumentasi cerita mempunyai dampak yang sangat luas, karena dokumen cerita yang dibuat di Indonesia bisa diakses langsung di Mesir. Ternyata bahasa Indonesia yang dipelajari oleh mahasiswa Universitas Al-Azhar dan Kanal West University, luar biasa. Dalam waktu 3 bulan belajar bahasa Indonesia, satu minggu dua kali dalam waktu 2 jam, mahasiswa tersebut bisa bercerita tentang cerita-cerita Indonesia.

"Hebatnya mahasiswa-mahasiswa Mesir belajar bahasa Indonesia, antara 1-3 bulan sudah bisa langsung bercerita tentang Lutung Kasarung, bisa bercerita tentang Legenda Danau Toba," ujar Danu.

Danu awalnya bingung, karena ia sendiri mengaku tidak bisa cerita tentang Lutung Kasarung, kemudian ia bertanya bagaimana mahasiswa tersebut bisa hafal cerita Lutung Kasarung. Ternyata mereka belajar dari internet, melihat film Lutung Kasarung dan legenda Danau Toba dan juga baca bukunya dan mahasiswa tersebut bercerita tanpa teks.

Untuk itu dia mengingatkan kepada para peneliti, agar dokumen hasil penelitian itu dibuat lebih baik, dan ditayangkan di website sehingga seluruh dunia bisa mengaksesnya.

"Artinya dukumentasi yang berbentuk film itu pengaruhnya sangat luar biasa. Bahkan termasuk orang asing. Jadi tolong dukumentasikan dengan baik, cerita-cerita rakyat, cerita tradisi lisan, kita tidak tahu ternyata yang belajar itu dari berbagai negara, padahal saya baru mendatangi satu negara yaitu Mesir, dan kita mempunyai 235 lembaga di seluruh dunia yang mengajarkan bahasa Indonesia," katanya.

Sementara itu Ketua panitia Diskusi Dokumentasi Sastri Sunarti mengatakan ada tujuh dokumentasi yang akan ditayangkan kepada publik yang hadir, sehingga diharapkan memberikan manfaat dan informasi yang berharga di bidang penelitian kebahasaan dan kesastraan.

Tujuh dokumentasi yang akan ditayangkan yaitu, penelitian pemetaaan di Kepulauan Yapen Papua, tentang Bahasa Berbai, Tradisi Lisan Sandur, di Jawa Timur, Pementasan Seni Tradisi Dulmuluk di Palembang, Sumatera Selatan, Revitalisasi Bahasa Berbasis Komunitas, Bahasa Hitu, di Maluku, Konservasi Manuskrip di Nusantara, Penelitian Kebhinekaan dalam Tradisi Lisan di Poros Maritim Indonesia (Alor dan Banten).

Dokumentasi tersebut kata Sastri, setelah diedit dari data awal yang panjang, menjadi sebuah pertunjukan atau sebuah tayangan, yang mudah-mudahan akan menarik dari segi tampilan, dari segi penampilan, dan segi informasi.

"Mudah-mudahan ke depan karena banyak sekali dokumentasi yang sudah kami miliki di bidang kebahasaan dan kesastraan dan selama ini belum kami sampaikan, ke depan bisa disampaikan ke depan publik secara luas," pungkasnya.