Jakarta, InfoPublik - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengingatkan jangan sampai penulis tanpa pernah memikirkan untuk siapa yang akan membaca buku yang ditulisnya dan itu harus diperhatikan sungguh-sungguh.

"Saat ini banyak penulis buku bacaan untuk anak siswa SD kelas 4 tapi bahasanya terlalu tinggi untuk anak SD tersebut akhirnya tidak menyambung antara penulis dan pembacanya," tegas Mendikbud Muhadjir Effendy, saat membuka acara Penulis Tahap II Ikuti Pertemuan Bahan Literasi Dalam Rangka Gerakan Literasi Nasional 2017, di Hotel Santika TMII Jakarta Timur, Kamis (5/10) malam.

Mendikbud menilai masih banyak penulis yang menulis dengan kemauan bahasanya sendiri, padahal buku tersebut untuk bacaan anak SD kelas 4 -6, tapi bahasanya, saya membaca beberapa contoh buku, banyak kalimat kata yang bukan untuk dunia anak, tapi bukan dunia anak untuk berdialog, misalnya bahasa asing, sedangkan anak-anak itu kan pakai bahasa gaul dan kita tidak boleh melanggar tata bahasa.

"Jadi usahakan para penulis harus membayangkan siapa sebetulnya yang akan membacanya, jangan sampai penulis itu egois, biarin saja saya yang nulis, ya pembaca harus mengikuti saya. Ini penulis egois," tegas Mendikbud.

Mendikbud meminta kepada para penulis untuk membaca buku filsafat, terutama analisa agar ketika kita menjalankan misi sebagai penulis-penulis pada fungsi pendidikan punya standar dan landasan teoritis yang kuat sehingga misi kita untuk mencerdaskan masyarakat berhasil sesuai harapan.