Wilayah terdepan Indonesia kerap identik dengan ketertinggalan atau kemiskinan. Tapi, bagi para pemasak garam di Pulau Timor ini, kearifan lokal turun temurunlah yang membuat mereka bertahan untuk tetap hidup sederhana.

Secara perlahan, seorang bapak memainkan sekopnya di atas seng persegi yang berada di atas tungku membara. Seng persegi panjang berfungsi sebagai panci besar, berisikan air kecoklatan yang mulai mengering, menyisakan kristal-kristal putih.

“Ini namanya memasak garam, “ kata Wens Mesak, pria berusia awal 50-an, sambil terus mengaduk-adukkan sekopnya di atas adonan garam basah yang makin mengering. Sesekali, dengan sekopnya, ia tiriskan kristal garam agar terpisah dari air. Lalu, ia sisihkan kristal garam ke dalam semacam bakul untuk menjalani proses pengeringan lebih lanjut.

Yang dilakukan Bapak Wens adalah bagian akhir dari pembuatan garam tradisional. Oleh sejumlah warga di Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Nusa Tanggara Timur, memasak garam adalah mata pencaharian mereka. Cara mencari nafkah semacam ini sudah mereka lakoni secara turun-temurun.

“Prosesnya membutuhkan waktu seharian, sehingga kami tidak sempat melakukan pekerjaan yang lain,” ujar  Yanuarius Seran, yang sore itu, baru saja bebersih diri usai melakukan kegiatan yang sama dengan Bapak Wens.

Dimulai sejak matahari terbit, cerita Yanuarius, ia dan Bapak Wens beserta sejumlah rekan lagi, mulai menimba beberapa galon air dari sumur-sumur yang sudah digali sebelumnya, tak jauh dari gubuk tempat tungku memasak garam. Lokasi pembuatan garam ini berjarak hanya beberapa ratus meter dari bibir pantai, sehingga air sumur memiliki kandungan garam yang tinggi.

Meski demikian, untuk mengubah air asin menjadi kristal garam, harus melalui rangkaian proses. Sederhana memang, tapi butuh ketekunan, paling tidak sehari penuh, untuk mendapatkan satu atau dua karung garam.

Air sumur tak langsung dimasak, melainkan disaring terlebih dahulu menggunakan wadah berukuran dua meter persegi yang dasarnya ada lapisan kerikil sebagai penyaring. Tirisan air dikumpulkan setetes demi setetes dalam ember. Air sumur yang tadinya keruh, setelah disaring menjadi jernih kecoklatan seperti warna tembaga. Proses pengambilan air dari sumur hingga penyaringan, dilakukan secara terus menerus seadanya ember-ember penampung.

Air yang sudah jernih itu kemudian dimasak menggunakan panci persegi bekas drum aspal. Untuk bahan bakarnya, cukup menggunakan potongan-potongan kayu kering yang dengan mudah warga dapatkan di hutan sekitar mereka tinggal. Proses memasak garam inilah yang membutuhkan ketekunan ekstra, karena setiap kali harus dilakukan pengadukan agar kristal garam tidak menggumpal. Bila air sudah mulai mengering, dan buliran garam sudah dipisahkan, maka air yang baru dimasukkan lagi. Begitu seterusnya hingga sore menjelang.

“Kalau kerja dari subuh, mungkin bisa dapat dua pete (bakul dalam bahasa setempat). Satu pete kita jual dengan harga seratus limapuluh ribu,” jelas Yanuarius sambil menunjukkan pete yang dimaksud. Ukuran satu pete kira-kira sama dengan satu karung ukuran 100 kg. “Sedangkan yang di kantong-kantong plastik itu harganya lima ribuan, “ tambahnya sambil menunjuk jejeran kantong plastik berisi sekitar setengah kilogram garam siap konsumsi.

Kalau yang di kantong plastik, masih menurut Yanurius, biasanya dibeli oleh orang melintasi jalan raya,  seperti InfoPublik yang berkesempatan berkunjung ke desa mereka pada pertengahan Agustus 2017 tadi. Sedangkan yang karungan dibeli oleh warga setempat, para pedagang di pasar Desa Silawan atau pasar di desa negara tetangga yang menjadi bagian dari Distrik Batugade, Republic Democratic Timor Leste.

Sayangnya, meski setiap hari seorang pemasak garam bisa menghasilkan satu atau dua karung garam, tidak setiap hari produknya laku terjual. Kondisi yang sangat ironis jika mengingat isu nasional sebulan belakangan tentang kelangkaan garam. Semisal di Desa Silawan, pasar hanya buka sepekan sekali, yakni tiap Hari Selasa. Sedangkan di Batugade, pasarnya buka hanya Hari Kamis. Artinya, permintaan pasar yang cukup banyak hanya ada dua kali dalam seminggu. Hari-hari biasa, sedikit yang laku, itupun paling-paling hanya beberapa bungkus plastik.

Laku tidaknya produksi garam sangat tergantung pada permintaan pedagang pasar. Kedua pemasak garam tidak sempat menjualnya sendiri ke pasar, mengingat waktu  mereka habis untuk mengolah garam. “Kami ingin jual sendiri, tapi kami tidak sempat,” kata Wens yang meski begitu selalu tampak ceria dan sumringah, karena mampu membiayai sekolah tiga anaknya dari hasil mengolah garam yang tak seberapa ini.