Padang, InfoPublik - Menjadi pengusaha itu harus berani mengambil resiko, berani mengambil bidang yang kelihatan buruk untuk diperbaiki, serta tak takut melakukan kesalahan. Pesan itu disampaikan Chief Executive Officer (CEO) situs jual beli online Bukalapak, Achmad Zaky dan penulis trilogy ‘Negeri 5 Menara” Ahmad Fauzi. Duo Zacky dan Fuadi memukau lebih dari 600 peserta Entreprenuers Wanted! #KSPGoestoSchool yang digelar Kantor Staf Presiden di Convention Hall Universitas Andalas, Padang, Rabu (10/5).

Achmad Zaky memaparkan, banyak sarjana, sekalipun dari kampus besar seperti dirinya, ternyata sulit mencari kerja Bagus bagi kita untuk berwirausaha, tapi harus advanced. Jangan seperti penjual bakso, yang dari muda sampai tua terus jualan bakso saja,” kata Sarjana Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung ini.  

Zaky berkisah, dulu ia percaya untuk memulai usaha pasti butuh modal besar, pengalaman dan punya teman orang kaya. “Saya membalik anggapan itu. Tak punya pengalaman, orang tua bukan pebisnis dan taka da teman kaya,” kata pria kelahiran Sragen, 30tahun silam ini.

 

Awalnya, kantor Bukalapak cuma seluas 15 meter persegi, mirip kost-kostan. Isinya hanya dua pekerja, Zaky dan kawannya, Nugroho Herucahyono. Hampir seluruh waktu dan tenaga mereka curahkan untuk mengawali project ini. Bangun pagi dan terus mengutak-atik komputer hingga tengah malam, lalu tidur sebentar dan bangun lagi untuk hal yang sama, membidani lahirnya situs jual beli online Bukalapak.com.

Ia berkisah, pernah Bukalapak bikin live chat hanya diikuti lima orang. “Setelah dicek, ternyata itu berasal dari komputer sendiri, ceritanya. “Kita boleh punya mimpi tapi jangan mimpi itu haya jadi angan-angan. Wujudkan dengan kerja keras!” tegas Zaky.

Zaky menegaskan, ada dua pilihan dalam hidup. Pilih jalan yang aman, jadi orang gajian, atau jalan yang beresiko, mulai berbisnis. Ia menguraikan, resiko berasal dari kata bahasa Inggris risk. Nah, di balik keberanian mengambil resiko (risky) itu ada rizky, rezeki.

“Tak masalah gagal dalam berbisnis. Semakin sering mencoba, makin lama kita makin jago,” papar pria yang pernah gagal dalam berbisnis ini. Jadi penjual mie ayam, modal dari beasiswa kampus, tapi tak laku.  Begitupula saat beralih mencoba menjual software.

Zaky menekankan, salah satu kunci sukses berbisnis yakni menemukan partner yang tepat. “Cari partner bisnis yang baik. Ibaratnya, mau diajak ke jurang, mau percaya dan saling menguatkan,” katanya.

Zaky pun menyayangkan, banyak pebisnis cenderung jadi follower. Lagi trend batu akik, semua ikut jualan batu akik. “Ciptakanlah value dari sebuah usaha. Jangan hanya main harga,” pesannya.

Hal yang sama dikatakan oleh Ahmad Fuadi, ia menekankan kutipan ‘Man Jadda Wa Jadda’. Bekerja lebih keras, terus tekun untuk hasil lebih,” papar pria 44 tahun asal Bayur Maninjau ini.

Lulusan Pondok Pesantren Gontor dan Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran ini menegaskan lagi ungkapan orang Minang. “Bisa karena biaso. Kita bisa karena pengalaman,” kata Fuadi.

Ditambahkannya lagi, orang Minang berkata, ‘alam takambang jadi guru’. “Alam ini jadi sumber ilmu pengetahuan kita,” kata pria yang banyak meraih beasiswa dari berbagai lembaga internasional ini.

Saat kelas sharing, seorang mahasiswa bertanya minta saran, bagaimana menghadapi mereka yang suka mancimeeh (bahasa minang untuk sinis, -red) dan mengolok-olok saat kita mau mulai berbisnis? Kata Achamd Zaky, yang mancimeeh tak usah ditanggapi. “Buktikan saja, jadikan cambuk. Jangan malah melempem dan jadi cemen,” ungkapnya.

Zaky mencontohkan, kalau dulu ia diejek di pertemuan keluarga, sekarang pada minta foto dan ingin anaknya kerja di Bukalapak. Katanya, “Cita-cita anak muda pun sudah berubah. Dulu kebanyakan ingin jadi dokter. Sekarang, ingin jadi pengusaha!”(Jojo)