Jakarta, InfoPublik - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melakukan penataan dan pemenuhan guru produktif di SMK untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan vokasi serta pendidikan dan pelatihan keterampilan kerja.

Melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK), Kemendikbud mengambil langkah strategis pada tahun 2017 ini membuka lowongan bagi 15 Ribu guru untuk mengikuti Program Keahlian Ganda Tahap II yang akan dibuka pada awal Juni 2017 dengan sistem dalam jaringan (daring) atau online.

Pendaftarannya dilakukan secara terbuka untuk semua guru SMA maupun SMK yang termasuk guru adaptif. "Tahun 2016 hingga April 2017 ini kita akan mulai program sertifikat ganda kepada 15.170 guru adaptif, yaitu guru-guru yang saat ini mengajar mata pelajaran Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, IPS, dan Bahasa Inggris," tutur Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK), Kemendikbud Sumarna Surapranata, di Gedung Kemendikbud Senayan Jakarta, Kamis, (27/4).

Pranata menyebutkan Program Keahlian Ganda Tahap I dari 16.487 peserta pendaftar melalui online, sebanyak 15.170 peserta diterima dan diusulkan dan hanya 14.172 peserta yang dipanggil pembekalan. Namun hanya 12.741 guru yang menandatangani integritas.

Sedangkan 998 guru lainnya mengundurkan diri berdasarkan hasil rekam data dengan Dinas Pendidikan Provinsi. Guru tersebut mengundurkan diri karena ada info negatif yang mengatakan bila guru yang bersangkutan mengikuti Program Keahlian Ganda, maka tunjangan sertifikasi guru tersebut akan dicabut selama mengikuti program tersebut.

"Jadi info tersebut sangat menyesatkan dan tidak benar bahwa Dirjen GTK akan mencabut tunjangan sertifikasi bagi guru yang mengikuti program keahlian ganda," ungkap Pranata.

Saat ini menurutnya, diperlukan sekitar 91.861 guru SMK untuk bidang-bidang yang menjadi prioritas, yaitu maritim atau kelautan, pertanian dan ketahanan pangan, pariwisata, industri kreatif, serta teknologi dan rekayasa yang terdiri dari guru SMK produktif swasta sebanyak 50.000 guru dan selisih kekurangan guru SMK sebanyak 41.861 guru.

Pranata mengatakan, ada dua cara untuk memenuhi kebutuhan guru produktif SMK, yaitu dengan melakukan rekrutmen, dan program keahlian ganda. “Tapi untuk rekrutmen, kita merekrut juga tidak mudah, karena suplainya juga belum tentu ada,” ujarnya.

Karena itu lanjutnya, dalam jangka waktu pendek, yaitu langkah strategis untuk tahun 2016 hingga 2017 Kemendikbud menempuh cara kedua melalui Program Keahlian Ganda.

Menurut Pranata, dalam Program Keahlian Ganda, seorang guru SMA/SMK bisa memiliki dua sertifikasi, yaitu Sertifikasi Pendidik dan Sertifikasi Keahlian. Dengan begitu, guru SMA/SMK yang telah memiliki sertifikasi keahlian diharapkan dapat memenuhi kekurangan guru produktif di SMK.

“Tahun ini kita akan mulai program sertifikat ganda kepada 15.000 guru adaptif, yaitu guru-guru yang saat ini mengajar mata pelajaran Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, IPS, dan Bahasa Inggris,” kata Pranata.

Pranata menjelaskan, Program Keahlian Ganda untuk mendapatkan sertifikat keahlian sebagai guru produktif akan berlangsung selama 12 bulan melalui empat tahap dengan tahap ON dan IN.

“Untuk tahap ON itu, peserta belajar mandiri di sekolah asalnya, dan diberikan modul dan pendampingan. Sedangkan untuk tahap IN ada di industri dan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK),” katanya.

Pada akhir pelatihan, jika lulus ujian, guru yang menjadi peserta Program Keahlian Ganda bisa mendapatkan sertifikat ganda, yaitu sertifikat keahlian dan sertifikat pendidik. Sertifikasi keahlian akan dikeluarkan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), sedangkan sertifikasi pendidik diterima setelah lulus Program Sertifikasi Guru melalui pola Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK).