Perkuat Pangan di Sulbar, Kementan Dorong Pengembangan Komoditas Strategis

:


Oleh Baheramsyah, Kamis, 27 April 2017 | 23:13 WIB - Redaktur: Elvira - 1K


Jakarta, InfoPublik,- Kementerian Pertanian (Kementan) berkomitmen akan memperkuat pangan di Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) dengan mendorong pengembangan komoditas pangan strategis dan bernilai ekonomi tinggi yakni kakao, jagung, sawit, dan ternak sapi.

Hal ini disampaikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat meninjau pengembangan lahan integrasi sawit-jagung seluas 10 ribu hektar sekaligus melakukan panen jagung bersama Kapolda Sulbar, Brigjen Pol. Nandang dan Bupati Mamuju Tengah,  Aras Tamaoni, di Desa Tobadak I, Kecamatan Tobadak, Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, Kamis (27/4).

Amran mengatakan pengembangan komoditas pangan strategis tersebut berdasarkan keunggulan potensi pertanian yang dimiliki Provinsi Sulbar sesuai dengan agroklimat dan kultur masyarakat. Menurutnya, keunggulan tersebut belum digarap secara optimal. Oleh karena itu, apabila mulai saat ini digarap, maka mampu menghasilkan pangan bernilai ekonomi tinggi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Sulawesi Barat ini adalah daerah baru pemekaran, ini sangat bagus kita bantu. Kemudian apa keunggulanya sesuai dengan agroklimat dan kultur masyarakatnya yakni pertama adalah kakao, ini harus didorong. Kedua, kita melihat potensi jagung yang selama ini tidak tergarap. Ketiga, ada sawit, kami integrasikan dengan jagung, ini yang kita lakukan panen dan perlu kita dorong di Sulawesi Barat. Kemudian, padi juga kita dorong agar swasembada,” demikian kata Amran.

Amran mengungkapkan guna mendorong pengembangan jagung, pemerintah melalui Kementan membangun industri pakan ternak. Upaya ini dengan menggandeng para investor baik dari luar negeri maupun dalam negeri, sehingga komoditas pangan yang dihasilkan sampai ke produk akhir yang memberikan nilai tambah untuk petani.

“Bantuan pemerintah di Sulawesi Barat yakni akan bangun feed milk, sudah ada investornya. Jadi jagung kita tanam dulu, kita sudah naikkan produksi jagung kan. Setelah ini berkembang, kita bangun industri pakan ternak. Kita membayangkan nanti, yang keluar pada hasil akhir adalah sosis, bukan daging, sehingga added value nya tinggi. Tapi minimal nanti daging dulu yang keluar. Investornya tersebut ada dari Thaiwan dan investor nasional yang perusahaannya cukup hebat. Yang penting pihak ketiganya ada kepastian,” ungkap Amran.

Terkait hal ini, Amran optimis bahwa kerja sama dengan pihak ketiga atau pelaku usaha mampu memberikan hasil nyata dalam mewujudkan penguatan pangan. Contohnya, pembangunan silo yang terbangun di seluruh Indonesia sampai saat ini yakni kapasitas kurang lebih 3 juta ton per tahun. Pelaku usaha menggunakan modal sendiri, namun pemerintah mendukungnya dengan mendorong petani untuk berproduksi jagung melalui jaminan harga.

“Pelaku usaha di Gorontalo sudah bangun silo sendiri, Kami sudah lihat langsung juga di Lampung, dan beberapa daerah karena ada kepastian. Harga kita jaga di tingkat petani. Petani sangat gampang kita dorong, beri kepastian harga, meraka akan produksi. Tapi kalau petani rugi, maka akan berhenti produksi,” ujar Amran.

Untuk mendorong penambahan populasi ternak sapi, Kementan memiliki program Inseminasi Buatan (IB) dengan target 3 juta indukan. Pencapaian IB sampai saat ini mencapai 967 ribu indukan dan tahun lalu yang lahir mencapai 1,4 juta ekor pedet (anak sapi) dengan nilainya kurang lebih Rp 50 triliun. Kemudian, apabila tumbuh lagi dalam 2 tahun, nilai yang diperoleh kurang lebih mencapai Rp140 hingga 150 triliun.

“Jadi sederhana, kita sudah lihat di Mamuju Timur dan Mamuju Utara, sapi yang umur 2 tahun harganya hampir 60 juta, ini hasil IB yang dilakukan secara bersama, tetapi kalau sapi lokal harganya yang umur 2 hingga 3 tahun hanya 6 juta, sehingga ada kenaikan 1.000 persen. Artinya kita bertani dengan cerdas, induknya lokal, tapi anaknya limosin,” sebut Amran.

Lebih lanjut terkait sawit, Amran menyampaikan bahwa Presiden Jokowi telah menekankan agar hati-hati dalam pengembangan sawit di lahan gambut. Akan tetapi, Amran mengungkapkan telah berdiskusi dengan para pengusaha agar tidak perlu risau. Sebab, Presiden sangat mendukung rakyat dan pengusaha agar dapat tumbuh bersama.

“Jadi kita harus bijak melihat ini. Karena kalau ada industri, akan ada petani di situ, tetapi jangan melanggar undang-undang, mari kita tumbuh bersama di negeri ini dengan menaati regulasi yang ada,” demikian tutur Amran.

Bupati Mamuju Tengah, H. Aras Tamaoni mengapresiasi kunjungan kerja Menteri Pertanian yang terjun langsung ke petani dan meninjau lahan. Untuk mendorong swasembada pangan nasional, Mamuju Tengah memiliki potensi yang cukup besar.

"Luas lahan sawah 11 ribu hektar, jagung 19 ribu hektar, kakao 13.320 hektar, sawit 41 ribu hektar, dan kopi 1.093 hektar," ungkapnya.

Untuk itu dalam kunjungan ini, Mentan Amran memberikan tambahan bantuan benih jagung seluas 15 ribu hektar dari bantuan awal 15 ribu hektar, sehingga total bantuan benih jagung di Kabupaten Mamuju Tengah tahun 2017 mencapai 30 ribu hektar. Selain itu, bantuan lainnya yakni alat mesin pertanian berupa pompa air sebanyak 10 unit dan traktor 2 roda 10 unit.