Jakarta, InfoPublik - Nama Baginda Dahlan Abdullah memang kurang terdengar saat ini, hal ini mungkin disebabkan oleh sifat Putra Pariaman yang perjuangannya ditujukan kepada pekerjaan yang tidak membutuhkan gembar-gembor.

Di tanah Pariaman, nama Dahlan Abdullah cukup dikenal oleh seluruh kalangan. Sebagai wujud penghargaan atas jasa-jasanya dan kepahlawanan beliau semasa hidupnya, pada tanggal 9 April 2016 dilakukan peresmian nama Jalan Baginda Dahlan Abdoellah di Pariaman.

Mengingat jasa-jasa Baginda Dahlan Abdoellah kepada bangsa dan negara Indonesia semasa hidupnya, masyarakat kota Pariaman juga sangat berharap agar beliau bisa menyandang predikat sebagai pahlawan nasional. Pemerintah kota Pariaman juga sangat mendukung upaya tersebut. Dahlan Abdullah lebih mencurahkan otak dan tenaganya untuk perjuangan "Perhimpunan Indonesia" yang diketuai cukup lama.

Semangat perjuangan lebih meliputi dirinya daripada menggapai titel diakademis. Dia memang tidak begitu dikenal oleh khalayak ramai dewasa ini, akan tetapi jangan ditanyakan kepada para pemimpin dan pejuang yang sudah lanjut umurnya. Semuanya tentu kenal akan Dahlan Abdullah dengan tertawanya yang menggumuruhkan itu.

Malahan kabarnya tawanya inilah yang pertama membuat setiap orang yang berkenalan dengan dia tidak lupa-lupa padanya. Di antara teman-teman dulu pernah dia mendapat nama julukan “Lach dan Abdullah…..” Sifat-sifat yang rupanya terus dibawanya sampai lanjut usianya ini dia adalah teman dari almarhum Ratulangi, Thamrin, Mononutu, Tan Malaka, dan lainya.

Beliau tidak begitu mau banyak bergerak dimuka umum. Tetapi di kalangan kawan sejawat dan seperjuangan, Dahlan adalah orang yang disukai. Juga Angkatan Perhimpunan Indonesia Dahlan Abdullah dilahirkan di Pariaman, Sumatera Barat, tahun 1895. Pariaman ini adalah daerah yang terutama banyak melahirkan guru-guru, berlainan dengan Kota Gadang dengan engku-engku dokternya.

Demikianlah, Dahlan Abdullah diinginkan oleh keluarganya juga menjadi seorang guru. Setelah tamat sekolah rendah di Padang, dia melanjutkan pelajarannya di Sekolah Raja (Norma School) di Bukit Tinggi. Di sekolah inilah dia duduk sekelas dengan Tan Malaka. Berkat otaknya yang encer untuk belajar, maka setamat sekolah ini di 1913, dia bersama dengan Tan Malaka dan seorang lagi, diberi kesempatan untuk belajar terus di Nederland.

Pada tahun itu juga dia pergi ke Den Haag masuk “kweek-school voor onderwijzers” sampai tamat di tahun 1915. Belum puas juga dengan ini, kemudian dia memasuki Universiteit Leiden, mempelajari “Maleisch Land en Volkenkunde” dan maju dalam vak ini. Lalu diteruskannya mempelajari ilmu bahasa-bahasa Timur sambil membantu Prof. Van Ronkel sebagai dosen.

Tetapi pelajaran ini, walaupun otaknya sebagai pelajar selalu encer, tidak pernah ditamatkannya. Dahlan Abdullah lebih mencurahkan otak dan tenaganya pada perjuangan “Perhimpunan Indonesia,” yang diketuainya beberapa lamanya. Beberapa teman seperjuangannya di masa itu tercatat, Ir. Surachman, Prof. Surjomihardjo dan banyak lagi yang lain-lain, yang tergolong kaum radikal.

Sebagaimana juga yang lain-lain, lapangan perjuangan yang diambilnya tidak terbatas di Nederland saja. Sambil menambah ilmu dan pengalaman perjuangan, Dahlan Abdullah mengadakan pengembaraan. Dia sampai ke Berlin, kemudian membantu Prof. Demp Wolff di Hamburg. Lalu terus ke Perancis, dan di Paris membantu Prof. Cabaton.

Suatu ketika diterimanya suatu studi opdracht untuk pergi ke Mekkah dan Kairo, untuk mempelajari keadaan mukminin, setelah perang dunia I dan keadaan para mahasiswa Indonesia di Mesir. Kembali ke Indonesia zonder title Oleh karena gelora semangat perjuangan yang lebih meliputi dirinya daripada dorongan mencapai salah satu title akademis, maka akhirnya dia terpaksa kembali ke Indonesia. Titel yang dibawanya hanyalah Haji.

Tahun 1924 dia ditempatkan sebagai guru di Tanjung Pinang. Akan tetapi karena setibanya di Indonesia dia tidak dapat pula dipisahkan dari suasana perjuangan yang makin meningkat ketika itu, maka dia ditarik ke Jakarta dan tidak diperbolehkan meninggalkan kota ini. Pekerjaan pada pemerintah ditinggalkannya dia masuk dalam lapangan perjuangan Muhammadiyah.

Dia sendiri kemudian menjadi guru kepala sekolah Muhammadiyah di Kemayoran. Tidak pula puas dengan perjuangan ini, kemudian dia memasukkan diri dalam perjuangan partai. Mula-mula dihidupkannya kembali “Sumatranen Bond” yang diketuainya sendiri dan kemudian dileburkannya de dalam Parindra. Demikian pula pada kongres Indonesia Raya di Solo oleh Permoefakatan Perhimpoenan-Perhimpoenan Politiek Kebangsaan Indonesia (PPKI), dia menjadi seorang terkemuka di samping Dr. Soetomo, Thamrin, Ir. Sukarno, Mr. Sartono, Mr. Ali Sastroamidjojo, dll.

Demikianlah, dimasa kehebatan perjuangan Parindra dengan Thamrin dan Soetomo, setelah beberapa pemimpin lainnya seperti Soekarno ditangkap Belanda, Dahlan tetap kelihatan berdiri disamping pantolan-pantolan kebangsaan itu. Walaupun dia bukan seorang yang suka berhadapan dengan khalayak ramai dan namanya tidak menjadi buah bibir orang.

Tenaganya memang terpakai dikalangan perjuangan. Dahlan Abdullah memikul tugas memperjuangkan nasib rakyat di dalam “Gemeenteraad” Jakarta oleh Parindra. Dalam keadaan ini ternyata perjuangannya memang tidak kecil. Walaupun tidak begitu diketahui oleh umum, sifatnya yang tidak suka pidato gembar-gembor itulah yang menyebabkan hal itu.

Salah seorang teman seperjuangannya dalan Dewan ini adalah Dr. Kajadoe yang mati dibunuh Jepang. Akan tetapi sifatnya yang suka ketawa keras itu, banyak pula menyebabkan dia mendapat teman. Tetapi, sekali lagi, namanya tidak populer di kalangan umum. Tepat ketika pemerintah Belanda bertekuk lutut terhadap Jepang, Dahlan Abdullah diangkat menjadi Wali Kota. Akan tetapi di zaman Jepang ini, Dahlan Abdullah sukar juga untuk menyesuaikan diri.

Salah satu sifatnya adalah dia tak dapat menentang untuk soal-soal Jakarta, di mana perlu diplomasi dengan opsir-opsir India dan tentara Inggris ketika itu. Tetapi tak berapa lama kemudian dia tiba-tiba ditangkap oleh Belanda dan dipenjarakan selama 6 bulan dengan tuduhan-tuduhan yang tak pernah dapat mereka buktikan. Kiranya ini ada juga hubungannya dengan sikapnya dulu di zaman Belanda.

Apabila dia keluar dari penjara, pemerintah Kota Jakarta sudah direbut oleh Belanda, dan semenjak 2 tahun, Jakarta tidak berpemerintahan Republik dan Dahlan Abdullah tetap menjadi non-kooperator.

Dahlan dilantik Presiden Soekarno di Istana Merdeka sebagai duta R.I.S untuk pos Bagdad pada tanggal 27 Februari 1950. Dahlan pun disambut meriah oleh pemerintahan Irak saat itu. Duta RIS Baginda Dahlan Abdoellah wafat di usia 55 tahun di Bagdad pada tanggal 12 Mei 1950 karena mendapat serangan jantung.