Jakarta, InfoPublik - Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi melakukan kunjungan kerja ke sejumlah daerah di Indonesia guna memastikan keberlangsungan pembangunan proyek-proyek strategis nasional.

Menurut Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Perhubungan (Kemenhub), J.A Barata, kunjungan kerja ini dilakukan berdasarkan arahan Presiden Joko Widodo, guna memastikan keberlangsungan proyek-proyek nasional itu.

Lebih lanjut Barata menjabarkan, adapun lokasi yang dikunjungi Menhub Budi pada kunjungan kerjanya Minggu (5/2) adalah Bandara Syamsuddin Noor - Banjarmasin; Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya-Kalimantan Tengah; dan Pelabuhan Daruba-Morotai.

Dalam kunjungan kerja menhub menjelaskan, pengembangan Bandara Syamsuddin Noor, Banjarmasin akan dimulai pada Maret 2017, dan selesai awal tahun 2019. 

Pembangunan yang dilakukan meliputi, perluasan terminal menjadi 50.359 m2 yang dapat menampung hingga 6 juta penumpang pertahunnya. Perpanjangan runway hingga 3000x45 m2, dan perluasan appron berkapasitas hingga 18 pesawat.

Saat ini pergerakan penumpang di bandara Syamsuddin Noor sudah mencapai 3,5 juta penumpang pertahunnya. Sementara kapasitas terminal seluas 9.043 m2 tersebut hanya mampu menampung hingga 1 juta penumpang pertahunnya. Sementara panjang runway baru sepanjang 2500 x 45 m2, dan appron yang mampu menampung hanya 12 pesawat saja.

Selain itu, perluasaan juga dilakukan pada terminal kargo menjadi seluas 5.000 m2 dari kondisi saat ini yang hanya seluas 802 m2. Mengantisipasi pergerakan barang yang terus meningkat dengan rata-rata peningkatan 10 persen per tahunnya.

"Pembangunan akan terus dilakukan hingga tahap 4 yaitu pada tahun 2047. Pada tahun tersebut, ditargetkan sudah memiliki terminal penumpang seluas 103.953 m2 yang dapat menampung hingga 12 juta penumpang pertahunnya," jelasnya.

Oleh karenanya, Menhub Budi meminta dukungan Pemda untuk membangun akses jalan menuju bandara, sehingga pada saat bandara selesai dikembangkan di tahun 2019, jalannya pun sudah jadi.

Untuk Bandara Tjilik Riwut, menhub mengungkapkan, bahwa bandara tersebut merupakan Bandara kelas I yang dikelola oleh Unit Penyelenggara Bandar Udara, Kementerian Perhubungan. Dari sisi darat, bandara ini memiliki terminal penumpang dengan luas 5.734 m2. Sedangkan dari sisi udara, bandara ini dilengkapi runway dengan luas 2.500 m x 45 m yang dapat didarati oleh pesawat jenis Boeing 737–900 ER. 

Saat ini proyek yang sedang berlangsung adalah pembangunan terminal baru Tjilik Riwut yang ditujukan untuk mengantisipasi lonjakan penumpang sekitar 10-15 persen per tahun. 

Sementara itu, terkait dengan proyek Pelabuhan, Budi menjelaskan bahwa ia mendapat rekomendasi dari gubernur mana pelabuhan yang akan dikembangkan dan mana yang tidak. "Nanti saya akan diskusi dengan Pak Gubernur, kami akan meniliti kembali bagaimana agar proyek pembangunan ini hadir dan memang berguna untuk masyarakat. Sayang sekali kalau kita sudah bangun, namun tidak dipakai," jelas Budi.

Budi juga menjelaskan proyek pembangunan kereta api yang harus dikaitkan dengan angkutan batubara. "Kalau ngomong kereta api untuk angkutan penumpang, penumpang masih terlalu sedikit, terlalu mahal kita bayar. Nah kalau angkutan batu bara, mereka menghitung daerah mana saja yang akan di-cover sebagai daya dukung," ungkap Budi.