Sleman, InfoPublik - Saparan bekakak kembali digelar oleh warga desa Ambartketawang, Gamping, Sleman di Lapangan Ambarketawang, Jumat (18/11). Tradisi ini berlangsung satu tahun sekali pada bulan sapar dalam kalender Jawa. 

”Selain sudah menjadi tradisi turun temurun upacara adat saparan bekakak menjadi salah satu destinasi wisata di wilayah Gamping khususnya bagi warga desa Ambarketawang”, kata Camat Gamping, Priyo Handoyo.

Penyelenggaraan upacara saparan Gamping bertujuan untuk menghormati arwah (roh halus) Kiai dan Nyai Wirosuto sekeluarga. Kiai Wirosuto adalah abdi dalem penangsong (hamba yang memayungi) Sri Sultan Hamengku Buwana I.

Pembawa payung kebesaran setiap Sri Sultan Hamengku Buwana I berada dan tidak ikut pindah waktu dari keraton (pesanggrahan) Ambarketawang ke keraton yang baru. Bersama keluarganya ia tetap bertempat tinggal di Gamping. Dan dianggap sebagai cikal bakal penduduk Gamping.

Waktu penyelenggaraan upacara Saparan Gamping telah ditetapkan, ialah setiap hari Jumat dalam bulan sapar antara tanggal 10 - 20 pada pukul 14.00 (kirab temanten bekakak).

Acara dibuka dengan pementasan dari komunitas Reog Kosti Solo yang membawakan kesenian Reog Ponorogo. Setelah penampilan reog, kirab pengantin bekakak dimulai dari lapangan Ambarketawang menuju altar penyembelihan di Gunung Killing dan Gunung Gamping. Selain penganting bekakak, kirab juga dimeriahkan oleh bregada prajurit, komunitas seni jatilan, dan berbagai macam bentuk Ogoh - ogoh. (MC.Sleman/Eyv)