Jakarta InfoPublik - Saat bintang sepakbola Jerman yang kini bermain di Arsenal, Mesut Ozil berkostum Real Madrid, sebuah aksi kepedulian dan solidaritas ditunjukkan pemain bola keturunan Turki yang rajin membaca Al-Quran itu.

Tahun 2012 lalu, ketika Israel membombardir Jalur Gaza dengan berbagai macam senjatanya dan menewaskan rakyat Palestina termasuk anak-anak, sebuah foto yang sangat menyentuh hati Ozil muncul. Mata Ozil berkaca-kaca melihat foto jenazah bocah berumur lima tahun itu. Saat meregang nyawa akibat terkena serpihan bom, bocah itu sedang bermain sepakbola sambil mengenakan pakaian olahraga Real Madrid dengan nomor punggung 23. Rupanya, si bocah adalah fans berat pemilik nomor punggung 23 yang tiada lain adalah seorang bintang Muslim bernama Mesut Ozil. Ozil mengunggah foto itu di akun instagram milikny. “R.I.P. to all the innocent victims. I’m praying for you. Free Gaza, free Palestine,” tulis Ozil terkait foto tersebut.

Tak hanya Ozil yang seorang Muslim, dua pemain terbaik dunia saat ini, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo pun menyampaikan dukungan serupa terhadap penderitaan Palestina. Mereka memiliki rasa solidaritas sangat tinggi terhadap rakyat Palestina.

Messi pernah memamerkan foto dirinya saat memegang kostum bertuliskan Free Palestina (bebaskan Palestina). Bersama Barcelona, Messi juga pernah menjalani tur perdamaian di Palestina, Agustus 2013.

Sedangkan CR7, julukan Ronaldo, juga memiliki kepedulian tinggi terhadap Palestina. Ronaldo pernah menyumbangkan dana Rp19 miliar untuk pembangunan sekolah di Gaza. Dana tersebut didapat dari uang hasil lelang sepatu emas miliknya. CR7 (julukan Ronaldo) juga pernah secara langsung berkunjung ke Palestina dan menyaksikan penderitaan warga setempat.

Selain itu, CR7 pernah melakukan aksi protes terhadap Israel. Dia menolak bertukar kostum dengan pemain Israel. Kala itu, Timnas Portugal melawan Israel dalam pertandingan kualifikasi Piala Dunia Grup F. Di akhir pertandingan, pemain Israel mendekati Ronaldo untuk bertukar kostum, namun ia tidak mengindahkan pemain Israel tersebut.

Pada bulan Agustus 2012, legenda sepakbola Argentina Diego Maradona menerima syal hitam-putih-hijau Palestina dari penggemarnya. Dia memeluk fansnya itu dan mengucapkan terima kasih, sebelum memberikan tanda kemenangan dan berkata ke arah kamera “Viva Palestina.

“Saya telah berjanji kepada anggota tim nasional Palestina akan mengunjungi Palestina. Saya mendukung masalah rakyat Palestina karena saya dibesarkan sepenuhnya dari perjuangan serta menyadari perjuangan dan konfrontasi ketidakadilan. Palestina adalah negara yang sedang berjuang,” katanya.
Di Indonesia, kelompok pendukung klub sepakbola, yaitu Viking (Persib Bandung), Bonek (Persebaya Surabaya), dan Aremania (Arema Cronus), juga sudah mengekspresikan dukungan dengan berbagai cara. Mereka mendukung perjuangan rakyat Palestina melawan pendudukan Israel.

Mereka adalah orang yang peduli terhadap penderitaan rakyat Palestina dengan menggalang solidaritas terhadap Palestina dengan cara mereka sendiri. Semuanya dalam satu tarikan nafas bahwa mereka sangat menentang penjajahan Israel terhadap Palestina.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan oleh kaum Muslimin untuk menunjukkan solidaritasnya atas penderitaan rakyat Palestina. Salah satunya adalah dengan mengikuti acara Hari Al-Quds (Yaumul Quds). Hari Al-Quds dicetuskan oleh Imam Khomeini ra. Beliau  mengumumkan Hari Qods Sedunia.

Al-Qods atau Baitul Maqdis adalah simbol solidaritas dengan bangsa tertindas Palestina yang selama bertahun-tahun menderita akibat kezaliman dan penjajahan rezim perampas Zionis, menjadi korban genosida politik-politik imperialis dan penjajahan kuno di Timur Tengah. Oleh karena itu di bawah pancaran Hari al-Qods Sedunia, peran bangsa-bangsa Muslim dalam mengembalikan hak-hak terampas bangsa Palestina dan pembebasan tanah bumi yang dijajah Israel, menjadi pusat perhatian dunia.

Gelombang solidaritas dari berbagai penjuru dunia dan dengan latar belakang yang berbeda itu membuktikan bahwa permasalahan Palestina bukan sekedar permasalahn umat Islam saja. Namun, krisis Palestina sudah menjadi masalah kemanusiaan dimana melibatkan semua bangsa. Palestina bukan hanya milik Timur Tengah, Palestina kini bukan lagi milik umat Islam semata. Tapi persoalan Palestina sudah menjadi milik seluruh bangsa di dunia. Mereka mendukung karena tergerak oleh perasaan yang sama bahwa penderitaan rakyat Palestina oleh Israel harus segera dihentikan. Apapun caranya. (Indonesia Baik)