PUPR Selesaikan Enam Infrastruktur Pendukung Program Citarum Harum

:


Oleh Tri Antoro, Selasa, 12 Maret 2019 | 09:06 WIB - Redaktur: Gusti Andry - 1K


Jakarta, InfoPublik - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan (PUPR) tengah menyelesaikan enam pembangunan infrastruktur sistem pengendalian banjir sungai Citarum Hulu dalam rangka mendukung program Citarum Harum.

Keenam infrastruktur itu antara lain normalisasi sungai di hulu, pembanguan Embung Gedebage, pembangunan kolam retensi Cieunteung, pembangunan Floodway Cisangkuy dan Pembangunan Terowongan Nanjung. Pembangunan infrastruktur pengendali banjir juga bertujuan mendukung Program Citarum Harum.

Direktur Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PUPR Hari Suprayogi mengatakan, selama ini pada saat musim hujan, debit banjir Sungai Citarum yang besar tertahan batuan besar di Curug Jompong yang juga merupakan situs budaya. Oleh karenanya dibangun terowongan yang akan memperlancar aliran dan meningkatkan kapasitas Sungai Citarum dari semula hanya bisa menampung banjir kala ulang lima tahunan atau Q5 = 570 m3/detik menjadi Q20 = 643 m3/detik.

Pada saatnya nanti keberadaan Terowongan Nanjung bersama infrastruktur pengendali banjir Sungai Citarum, seperti kolam retensi Cieunteung, floodway Cisangkuy, Embung Gedebage dan normalisasi Sungai Citarum akan menurunkan luas genangan 700 hektare, dari semula 3.461 hektare menjadi 2.761 hektare. “Apabila 1 hektare dihuni  oleh 20 kepala keluarga (KK) maka akan ada 14.000 KK yang merasakan manfaat dari pembangunan terowongan ini,” kata Hari Suprayogi melalui siaran pers, Senin (11/3).

Terowongan juga dilengkapi oleh check dam di sisi outlet yang akan menahan sedimen agar tidak masuk ke Waduk Saguling yang berada di bawahnya.  Pada musim hujan aliran sungai Citarum sebagian besar dialirkan melalui terowongan. Pada musim kemarau, pintu terowongan akan ditutup sehingga dapat dilakukan pengerukan sedimen.

Terowongan Nanjung terdiri dari 2 tunnel dengan panjang masing-masing 230 meter dan diameter dalam 8 meter. Pembangunan terowongan telah dimulai pada November 2017 dengan progres saat ini mencapai 22% dan ditargetkan rampung akhir tahun 2019. Proyek dikerjakan oleh kontraktor PT. Wijaya Karya dan PT. Adhi Karya (Kerjasama Operasi) dengan anggaran sebesar Rp 352 miliar.

Ia melanjutkan, terdapat daerah yang berada lebih rendah daei elevasi sungai seperti Dayeuhkolot sehingga genangan tidak dapat dialirkan. Oleh karenanya diperlukan pembangunan kolam-kolam retensi yang akan menampung air pada saat musim hujan.

“Kolam retensi yang telah kami bangun adalah Kolam Retensi Cieunteung yang akan mengurangi banjir di Dayeuhkolot dan Baleendah. Masih diperlukan pembangunan kolam retensi lagi,” pungkasnya.